HARI PENDIDIKAN NASIONAL
Saudara-saudara sekalian !
Yang saya hormati Dosen Stai Darul Qalam Drs. Habibullah .
Yang saya hormati mahasiswa/ mahasiswi Stai Darul Qalam .
Alangkah bahagianya saya selaku menjabat sebagai ibu kepada Negara Indonesia, pada hari ini ! pada hari ini, kita merayakan hari pendidikan Nasional, yang bertempat dilapangan Istana Bogor pada tanggal 2 Mei 2007. Dengan memperingati Pendidikan Nasional semoga kita lebih semangat /bangkit untuk memajukan dan mencerdaskan pendidikan anak-anak bangsa agar berguna bagi bangsa, Negara dan Agama.
Pertambahan anak umur sekolah yang cepat dan pertambahan lulusan tiap jenjang pendidikan yang besar, tapi tidak diikuti penambahan prasarana dan sarana pendidikan yang cepat dan memadai, menimbulkan masalah bagi pemerintah untuk memberikan “pendidikan dan pengajaran” pada semua warga Negara sebagaimana diamanatkan oleh undang- undang Dasar.
Persoalan ini krusial mengingat beragamanya geografis nusantara yang luas dan terpencar dengan tingkat perkembangan sosial-ekonomi-kultural berbeda. Ketika itu untuk pertama kali pelaksanakan REPELITA dengan tekanan pada pembangunan ekonomi yang dipandang sebagai landasan bagi aspek- aspek lain dari pembangunan nasional. Dalam pembaruan pendidikan perhatian difokuskan pada upaya-upaya perbaikan dan peningkatan kualitas serta penataan kesempatan mendapat pendidikan. Mengenai yang terakhir ini sulitlah dicapai bila hanya melalui cara-cara konvesial yaitu memanfaatkan teknologi komunikasi dan teknologi ,informasi radio dan televisi. Pada tahun 2007 pemerintah telah menetapkan APBN untuk pendidikan sebesar 20% bagi SD, SLTP dan SLTA. Program dan kegiatan yang dilakukan tidak semata-mata atas dasar pertambahan jumlah gedung sekolah, guru, buku dan lain-lain.
Alternatif yang didentifikasikan adalah :
1. Penambahan daya tampung SLP yang dilakukan baik dengan penambahan sekolah baru
2. Peningkatan daya tampung sekolah- sekolah swasta
3. Pengembangan sekolah terbuka dengan media korespodensi, modul, siaran radio, siaran televisi dan lain-lain
4. Pembukaan kursus- kursus ketrampilan praktis diluar sekolah sebagai jalur penyaluran kemasyarkat..
Ki Hajar Dewantara (1889-1959) seorang tokoh pendidikan Indonesia yang memprokarsai berdirinya lembaga pendidikan Taman siswa. Dia lebih terkenal dengan filsafat” tut wuri handayani, hing madya mangun karsa, hing ngarso sung tulada. Dewantara mengklasifikasikan tujuan pandidikan dengan istilah “ tri-nga”(tiga “nga-nga adalah huruf terakhir dalam abjad jawa ajisak). “Nga” pertama adalah ngerti” (memahami /aspek intelektual). “Nga kedua” adalah “ngrasa” adalah (merasakan aspek afeksi), dan “nga” ketiga adalah “nglakonin” (mengajarkan atau aspek psikomotorik). Merumuskan tujuan pendidikan yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Menurut Dewantara, adalah hak tiap orang untuk mengatur diri sendiri, oleh karena itu pengajaran harus mendidik anak menjadi manusia yang merdeka batin, pikiran, dan tenaga. Pengajaran jangan terlampau mengutamakan kecerdasan pikiran karena hal itu dapat memisahkan orang tepelajar dengan rakyat.
Akhir sampai disini, semoga bangsa Indonesia lebih meningkatkan dan mencerdaskan serta menciptakan anak-anak didik yang produktif, kreatif, dan inovatif yang berguna bagi bangsa dan Negara, Menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas dan mandiri yang dapat memenuhi kebutuhan global
05 September 2009
30 Agustus 2009
Harapan HARDIKNAS
Hari Pendidikan Nasional
Hari ini tanggal 2 Mei 2009 adalah hari Sabtu, kemarin hari jumat dan besok adalah hari minggu, lusa hari senin, halah. Tanggal 2 Mei merupakan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia, memperingati tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara, Pahlawan Nasional di bidang pendidikan. Mungkin di sekolah-sekolah dari SD, SMP, dan SMU melaksanakan upacara tadi pagi untuk memperingati Hardiknas ini. Aku sih gak tahu karena aku di rumah saja, sudah tidak sekolah sih, hehe.
Sepertinya di televisi, juga tidak terlalu banyak pemberitaan tentang Hari Pendidikan Nasional ini, atau aku yang pas gak lihat beritanya ya, atau karena memang belum diberitakan. Berita di televisi yang ramai masih seputar Pilpres ( Pemilihan Presiden ), Koalisi Besar, Koalisi Partai-partai dalam rangka membangun kekuatan dalam menghadapi Pilpres nanti. Terus berita yang sedang hangat, tentang Ketua KPK ( Komisi Pemberantasa Korupsi ) Antasari Azhar yang sekarang di non aktifkan dari KPK sehubungan dengan dugaan keterlibatannya dalam kasus pembunuhan Nasruddin, Direktur PRB ( PT. Putra Rajawali Banjaran ). Benarkah Antazari Azhar terlibat ? Kita tunggu saja proses hukumnya.
Dan satu lagi berita di televisi yang selalu menghiasi infotainment akhir-akhir ini, perihal Manohara Odelia Pinot, wah masih terus jadi pemberitaan nih Manohara, ibunya masih belum ketemu langsung sih sama anaknya ini.
Kembali ke peringatan Hardiknas ( Hari Pendidikan Nasional ), membaca tulisan Pak guru Sawali di blognya dengan judul "Pekik Setengah Merdeka Buat Pendidikan", membuat kembali tersadar bahwa memang pendidikan di negeri Indonesia Raya tercinta ini yang sudah meredeka lebih dari 63 tahun ( 17 Agustus 2009 nanti 64 tahun ) belumlah benar-benar sesuai dengan tujuan pendidikan itu, tujuan untuk menuntut ilmu, menambah pengetahuan, meningkatkan intelektualitas yang berguna bagi diri sendiri, keluarga dan juga masyarakat. Ilmu yang bermanfaat yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan peran dan spesialisasi masing-masing individu. Yang diharapkan dari ilmu yang bermanfaat itu adalah terciptanya bangsa yang cerdas berpendidikan sehingga bisa memajukan kehidupan bangsa Indonesia ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar.
Namun, apa yang terjadi sekarang ini, masih banyak yang menjadikan kelulusan dan ijazah sebagai tujuan akhir menuntut ilmu dengan mengabaikan prosesnya. Kasus-kasus kecurangan-kecurangan UN ( Ujian Nasional ) pun masih terjadi di negeri tercinta ini. Masih seringnya terjadi tawuran antar pelajar, kekerasan berkelompok baik yang masih SMP maupun SMU atas nama gengsi ataupun gara-gara masalah sepele, atau hanyalah mencari jati diri ? Anak-anak sekolah sudah jadi pemalak bagi anak sekolah lain, belum lagi yang berhubungan dengan pornografi, beredarnya video porno anak sekolah berseragam, kasus hamil di luar nikah sehingga tidak bisa ikut UN, dan sebagainya.
Meskipun begitu, masih ada juga prestasi yang ditorehkan oleh siswa-siswa pilihan bangsa ini, seperti menjuarai Olimpiade pendidikan di luar negeri, mengharumkan nama bangsa. Semoga saja di masa yang akan datang, akan lebih banyak prestasi yang muncul dari dunia pendidikan Indonesia ini daripada catatan hitamnya. Semoga saja visi dari guru-guru seperti Pak Sawali ini yang mengharapkan pendidikan yang lebih maju dan sesuai dengan hakikat dan tujuan pendidikan itu sendiri bisa terwujud. Dan satu lagi, pendidikan yang mahal di negeri ini bisa diatasi.
Hari ini tanggal 2 Mei 2009 adalah hari Sabtu, kemarin hari jumat dan besok adalah hari minggu, lusa hari senin, halah. Tanggal 2 Mei merupakan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia, memperingati tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara, Pahlawan Nasional di bidang pendidikan. Mungkin di sekolah-sekolah dari SD, SMP, dan SMU melaksanakan upacara tadi pagi untuk memperingati Hardiknas ini. Aku sih gak tahu karena aku di rumah saja, sudah tidak sekolah sih, hehe.
Sepertinya di televisi, juga tidak terlalu banyak pemberitaan tentang Hari Pendidikan Nasional ini, atau aku yang pas gak lihat beritanya ya, atau karena memang belum diberitakan. Berita di televisi yang ramai masih seputar Pilpres ( Pemilihan Presiden ), Koalisi Besar, Koalisi Partai-partai dalam rangka membangun kekuatan dalam menghadapi Pilpres nanti. Terus berita yang sedang hangat, tentang Ketua KPK ( Komisi Pemberantasa Korupsi ) Antasari Azhar yang sekarang di non aktifkan dari KPK sehubungan dengan dugaan keterlibatannya dalam kasus pembunuhan Nasruddin, Direktur PRB ( PT. Putra Rajawali Banjaran ). Benarkah Antazari Azhar terlibat ? Kita tunggu saja proses hukumnya.
Dan satu lagi berita di televisi yang selalu menghiasi infotainment akhir-akhir ini, perihal Manohara Odelia Pinot, wah masih terus jadi pemberitaan nih Manohara, ibunya masih belum ketemu langsung sih sama anaknya ini.
Kembali ke peringatan Hardiknas ( Hari Pendidikan Nasional ), membaca tulisan Pak guru Sawali di blognya dengan judul "Pekik Setengah Merdeka Buat Pendidikan", membuat kembali tersadar bahwa memang pendidikan di negeri Indonesia Raya tercinta ini yang sudah meredeka lebih dari 63 tahun ( 17 Agustus 2009 nanti 64 tahun ) belumlah benar-benar sesuai dengan tujuan pendidikan itu, tujuan untuk menuntut ilmu, menambah pengetahuan, meningkatkan intelektualitas yang berguna bagi diri sendiri, keluarga dan juga masyarakat. Ilmu yang bermanfaat yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan peran dan spesialisasi masing-masing individu. Yang diharapkan dari ilmu yang bermanfaat itu adalah terciptanya bangsa yang cerdas berpendidikan sehingga bisa memajukan kehidupan bangsa Indonesia ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar.
Namun, apa yang terjadi sekarang ini, masih banyak yang menjadikan kelulusan dan ijazah sebagai tujuan akhir menuntut ilmu dengan mengabaikan prosesnya. Kasus-kasus kecurangan-kecurangan UN ( Ujian Nasional ) pun masih terjadi di negeri tercinta ini. Masih seringnya terjadi tawuran antar pelajar, kekerasan berkelompok baik yang masih SMP maupun SMU atas nama gengsi ataupun gara-gara masalah sepele, atau hanyalah mencari jati diri ? Anak-anak sekolah sudah jadi pemalak bagi anak sekolah lain, belum lagi yang berhubungan dengan pornografi, beredarnya video porno anak sekolah berseragam, kasus hamil di luar nikah sehingga tidak bisa ikut UN, dan sebagainya.
Meskipun begitu, masih ada juga prestasi yang ditorehkan oleh siswa-siswa pilihan bangsa ini, seperti menjuarai Olimpiade pendidikan di luar negeri, mengharumkan nama bangsa. Semoga saja di masa yang akan datang, akan lebih banyak prestasi yang muncul dari dunia pendidikan Indonesia ini daripada catatan hitamnya. Semoga saja visi dari guru-guru seperti Pak Sawali ini yang mengharapkan pendidikan yang lebih maju dan sesuai dengan hakikat dan tujuan pendidikan itu sendiri bisa terwujud. Dan satu lagi, pendidikan yang mahal di negeri ini bisa diatasi.
02 Agustus 2009
Prancis adalah Kota Islam Terbesar DI Eropa
Ternyata Prancis adalah kota Islam terbesar di Eropa.
Buruh migran memicu pesatnya perkembangan Islam di Prancis.
Islam adalah agama yang damai, universal, dan rahmat bagi seluruh alam. Karena dasar itu, agama Islam pun dapat diterima dengan baik di berbagai belahan muka bumi ini. Mulai dari jazirah Arabia, Asia, Afrika, Amerika, hingga Eropa.
Pada abad ke-20, Islam berkembang dengan sangat pesat di daratan Eropa. Perlahan-lahan, masyarakat di benua biru yang mayoritas beragama Kristen dan Katholikini mulai menerima kehadiran Islam. Tak heran bila kemudian Islam menjadi salah satuagama yang mendapat perhatian serius dari masyarakat Eropa.
Di Prancis, Islam berkembang pada akhir abad ke-19 dan awal ke-20 M. Bahkan, pada tahun 1922, telah berdiri sebuah masjid yang sangat megah bernama Masjid Raya Yusuf di ibu kota Prancis, Paris. Hingga kini, lebih dari 10ncis00 masjid berdiri di seantero Prancis.
Di negara ini, Islam berkembang melalui para imigran dari negeri Maghribi, seperti Aljazair, Libya, Maroko, Mauritania, dan lainnya. Sekitar tahun 1960-an, ribuan buruh Arab berimigrasi (hijrah) secara besar-besaran ke daratan Eropa, terutama di Prancis.
Saat ini, jumlah penganut agama Islam di Prancis mencapai tujuh juta jiwa. Dengan jumlah tersebut, Prancis menjadi negara dengan pemeluk Islam terbesar di Eropa. Menyusul kemudian negara Jerman sekitar empat juta jiwa dan Inggris sekitar tiga juta jiwa.
Peran buruh migran asal Afrika dan sebagian Asia itu membuat agama Islam berkembang dengan pesat. Para buruh ini mendirikan komunitas atau organisasi untuk mengembangkan Islam. Secara perlahan-lahan, penduduk Prancis pun makin banyak yang memeluk Islam.
Karena pengaruhnya yang demikian pesat itu, Pemerintah Prancis sempat melarang buruh migran melakukan penyebaran agama, khususnya Islam. Pemerintah Prancis khawatir organisasi agama Islam yang dilakukan para buruh tersebut akan membuat pengkotak-kotakan masyarakat dalam beberapa kelompok etnik. Sehingga, dapat menimbulkan disintegrasi dan dapat memecah belah kelompok masyarakat.
Tak hanya itu, pintu keimigrasian bagi buruh-buruh yang beragama Islam pun makin dipersempit, bahkan ditutup. Meski demikian, masyarakat Arab yang ingin berpindah ke Prancis tetap meningkat. Pintu ke arah sana semakin terbuka.
Pelajar Muslim
Pada tahun 1970-an, imigran Muslim kembali mendatangi negara pencetus trias politica itu. Kali ini, para pelajar Muslim yang datang ke Prancis untuk menuntut ilmu. Kedatangan para pelajar ini menjadi faktor penting yang mengambil peran besar dan penting dalam mendorong penyebaran Islam dan berkehidupan Islam di jantung negeri Napoleon Bonaparte ini.
Tahun 1985, diselenggarakan konferensi besar Islam yang dibiayai Rabithah Alam Islami (Organisasi Islam Dunia). Turut serta dalam konferensi itu 141 negara Islam dengan keputusan mendirikan Federasi Muslim Prancis.
Peristiwa besar ini tidak luput dari perhatian dunia, mengingat kehadiran umat Islam di salah satu negara Eropa selalu menjadi dilema bagi para penguasa setempat, terutama yang menyangkut ketenagakerjaan (buruh) dan masalah sosial.
Hasil konferensi dan terbentuknya federasi Muslim itu berhasil mempersatukan sebanyak 540 buah organisasi Islam di seluruh Prancis dan melindungi 1600 buah masjid, lembaga-lembaga pendidikan Islam, dan gedung-gedung milik umat Islam.
Dengan kondisi ini, barisan (saf) umat Islam pun semakin kokoh. Yang lebih menggembirakan lagi, kebanyakan anggota federasi yang menjalankan roda organisasi justru berasal dari kaum muda-mudi Muslim berkebangsaan Prancis sendiri.
Federasi ini bertujuan berperan aktif dalam menyukseskan kegiatan keislaman di Prancis dan memberikan pengetahuan dan pendidikan tentang Islam kepada warga Prancis.
Lembaga ini berperan besar dalam menjembatani umat Islam Prancis dengan pemerintah setempat, terutama dalam menyuarakan kepentingan umat Islam.
''Dengan kesepakatan ini, umat Islam punya hak yang sama dengan umat Katholik, Yahudi, dan Protestan,'' kata seorang menteri di pemerintahan, Nicolas Sarkozy.
Organisasi itu merupakan gabungan dari tiga organisasi besar Islam di Prancis, yakni Masjid Paris, Federasi Nasional Muslim, dan Persatuan Organisasi Islam Prancis.
Pelarangan Jilbab
Prancis, yang juga terkenal sebagai negara mode ini, pernah melarang Muslimah menggunakan jilbab sekitar tahun 1989. Pelajar Muslimah dikeluarkan dari kelas karena memakai jilbab, pekerja Muslimah dipecat dari kantornya karena mengenakan jilbab. Namun, mereka tidak menyerah begitu saja. Umat Islam Prancis menggoyang Paris dengan aksi-aksi demo menuntut kebebasan. Dan, umat Islam di berbagai negara pun turut melakukan protes atas kebijakan tersebut.
Akhirnya, pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan pada 2 November 1992 yang memperbolehkan para siswi Muslimah untuk mengenakan jilbab di sekolah-sekolah negeri.
Sekarang, tampilnya wanita-wanita berjilbab di Prancis menjadi satu fenomena keislaman yang sangat kuat di negeri tersebut. Mereka bukan hanya hadir di masjid-masjid atau pusat-pusat keagamaan Islam lainnya, melainkan juga di sekolah-sekolah negeri, perguruan tinggi negeri, dan tempat-tempat umum lainnya.
Banyak hal yang memengaruhi perkembangan Islam di Perancis. Salah satunya adalah Perang Teluk 1991 yang menyebabkan munculnya krisis identitas di kalangan anak muda Muslim di Prancis. Kondisi ini mendorong mereka lebih rajin datang ke masjid. Gerakan Intifada di Palestina juga mendorong makin banyaknya Muslim Perancis yang beribadah ke masjid.
Umat Islam di Prancis memiliki peranan yang sangat penting. Mereka memainkan peranan dalam semua sektor. Mulai dari pendidikan, lembaga keuangan, pemerintahan, olahraga, sosial, dan lainnya.
Bahkan, pada Perang Dunia I dan II, umat Islam di Eropa tercatat turut menentang pendudukan Nazi. Keikutsertaan umat Islam dalam menentang pendudukan Nazi menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan kemerdekaan Prancis.
Masjid dan Sekolah Islam Meningkat
Seiring dengan berkembangannya agama Islam di negara Prancis, jumlah sarana ibadah dan kegiatan keislaman pun semakin meningkat.
Menurut survei yang dilakukan kelompok Muslim Prancis, sampai tahun 2003, jumlah masjid di seantero Prancis mencapai 1.554 buah. Mulai dari yang berupa ruangan sewaan di bawah tanah sampai gedung yang dimiliki oleh warga Muslim dan dibangun di tempat-tempat umum.
Perkembangan Islam dan masjid di Prancis juga ditulis oleh seorang wartawan Prancis yang juga pakar tentang Islam, Xavier Ternisien. Dalam buku terbarunya, Ternisien menulis, di kawasan Saint Denis, sebelah utara Prancis, terdapat kurang lebih 97 masjid, sementara di selatan Prancis sebanyak 73 masjid.
Ternisien menambahkan, masjid-masjid yang banyak berdiri di Prancis dengan kubah-kubahnya yang khas menunjukkan bahwa Islam kini makin mengemuka di negara itu. Islam di Prancis bukan lagi agama yang di masa lalu bergerak secara diam-diam.
''Masjid-masjid yang ada di Prancis kini bahkan dibangun atas tanah milik warga Muslim sendiri, bukan lagi di tempat sewaan seperti pada masa lalu,'' ujarnya.
Tampaknya, pada tahun-tahun mendatang, jumlah masjid akan makin bertambah di Prancis. Sejumlah masjid yang ada sekarang terkadang tidak bisa menampung semua jamaah. Masjid di kawasan Belle Ville dan Barbes, misalnya, sebagian jamaah terpaksa harus shalat sampai ke pinggiran jalan.
Awalnya, masjid-masjid yang ada di Prancis didirikan oleh orang-orang Muslim asal Pakistan yang bekerja di pabrik-pabrik di Paris, Prancis. Mereka mengubah ruangan kecil tempat makan siang atau berganti pakaian menjadi ruangan untuk shalat. Terkadang, mereka menggunakan ruangan di asramanya sebagai sarana ibadah. Sehingga, hal itu terus berkembang dan menyebar.
Perkembangan yang terus meningkat itu membuat sebagian masyarakat Prancis khawatir. Masjid-masjid yang ada sering menjadi sasaran serangan yang berbau rasisme. Masa suram masjid di Prancis terjadi pada tahun 2001. Sejumlah masjid menjadi sasaran serangan dengan menggunakan bom molotov. Bahkan, ada masjid yang dibakar. Bentuk serangan lainnya adalah menggambari dinding-dinding masjid dan dinding rumah imam-imam masjid dengan lambang swastika. Namun, sejauh ini, belum ada organisasi hak asasi manusia atau asosiasi Muslim yang mempersoalkan serangan-serangan itu.
Sekolah
Tak hanya masjid yang tumbuh, lembaga pendidikan Islam di negeri mode ini pun turut berkembang. Sejumlah sekolah Islam berdiri di Prancis. Sampai kini, sedikitnya ada empat sekolah Muslim swasta.
''Pemerintah belum lama ini memberi izin untuk memulai operasi,'' ujar Mahmoud Awwad, sponsor dan direktur sekolah Education et Savior.
Awalnya, sebuah sekolah didirikan di Vitrerie, pinggiran selatan Paris. Kurikulumnya disesuaikan dengan kurikulum pendidikan nasional Prancis, namun ada tambahan pelajaran khusus muatan lokal tentang keislaman, seperti bahasa Arab dan agama Islam.
Education et Savior adalah sekolah kedua yang dibuka di Paris setelah sekolah Reussite di pinggiran Aubervilliers, utara Paris, dan yang keempat di Prancis. Dua sekolah swasta Islam lainnya adalah Ibn Rushd di Kota Lille, utara Prancis, dan Al-Kindi di Kota Lyon.
Selama ini, umat Islam di Prancis ingin memiliki sekolah swasta Islam setelah Paris melarang jilbab dan simbol keagamaan di sekolah negeri empat tahun lalu. Siswi Muslim yang memakai jilbab akan dikeluarkan dari sekolah dan kondisi ini membuat masa depan mereka suram.
Awwad mengaku, pihaknya tidak sulit mendapatkan izin pendirian sekolah Islam. ''Tidak seperti sekolah Al-Kindi, kami tidak menemui rintangan,'' ujar Awwad. Pembukaan Al-Kindi di Lyon mendapat hambatan saat dibuka pada 2006.
Academy of Lyon, badan pendidikan negara yang tertinggi di kota itu, menolak izin operasional sekolah itu dan menutup sekolah dengan alasan pihak sekolah tidak memenuhi standar kebersihan dan keselamatan. Namun, Pengadilan Administratif di Lyon membatalkan penutupan itu pada Februari tahun lalu. Ini berarti sekolah Al-Kindi bisa membuka ajaran baru pada Maret 2007.
Menurut para pemimpin Muslim Prancis, insiden di Al-Kindi justru mendorong masyarakat Muslim untuk membuka sekolah serupa. ''Kontroversi Al-Kindi mendobrak ketakutan di minoritas Muslim untuk memiliki sekolah lebih banyak,'' ujar Lhaj Thami Breze, ketua Organisasi Persatuan Islam di Prancis, UOIF. osa/taq
Buruh migran memicu pesatnya perkembangan Islam di Prancis.
Islam adalah agama yang damai, universal, dan rahmat bagi seluruh alam. Karena dasar itu, agama Islam pun dapat diterima dengan baik di berbagai belahan muka bumi ini. Mulai dari jazirah Arabia, Asia, Afrika, Amerika, hingga Eropa.
Pada abad ke-20, Islam berkembang dengan sangat pesat di daratan Eropa. Perlahan-lahan, masyarakat di benua biru yang mayoritas beragama Kristen dan Katholikini mulai menerima kehadiran Islam. Tak heran bila kemudian Islam menjadi salah satuagama yang mendapat perhatian serius dari masyarakat Eropa.
Di Prancis, Islam berkembang pada akhir abad ke-19 dan awal ke-20 M. Bahkan, pada tahun 1922, telah berdiri sebuah masjid yang sangat megah bernama Masjid Raya Yusuf di ibu kota Prancis, Paris. Hingga kini, lebih dari 10ncis00 masjid berdiri di seantero Prancis.
Di negara ini, Islam berkembang melalui para imigran dari negeri Maghribi, seperti Aljazair, Libya, Maroko, Mauritania, dan lainnya. Sekitar tahun 1960-an, ribuan buruh Arab berimigrasi (hijrah) secara besar-besaran ke daratan Eropa, terutama di Prancis.
Saat ini, jumlah penganut agama Islam di Prancis mencapai tujuh juta jiwa. Dengan jumlah tersebut, Prancis menjadi negara dengan pemeluk Islam terbesar di Eropa. Menyusul kemudian negara Jerman sekitar empat juta jiwa dan Inggris sekitar tiga juta jiwa.
Peran buruh migran asal Afrika dan sebagian Asia itu membuat agama Islam berkembang dengan pesat. Para buruh ini mendirikan komunitas atau organisasi untuk mengembangkan Islam. Secara perlahan-lahan, penduduk Prancis pun makin banyak yang memeluk Islam.
Karena pengaruhnya yang demikian pesat itu, Pemerintah Prancis sempat melarang buruh migran melakukan penyebaran agama, khususnya Islam. Pemerintah Prancis khawatir organisasi agama Islam yang dilakukan para buruh tersebut akan membuat pengkotak-kotakan masyarakat dalam beberapa kelompok etnik. Sehingga, dapat menimbulkan disintegrasi dan dapat memecah belah kelompok masyarakat.
Tak hanya itu, pintu keimigrasian bagi buruh-buruh yang beragama Islam pun makin dipersempit, bahkan ditutup. Meski demikian, masyarakat Arab yang ingin berpindah ke Prancis tetap meningkat. Pintu ke arah sana semakin terbuka.
Pelajar Muslim
Pada tahun 1970-an, imigran Muslim kembali mendatangi negara pencetus trias politica itu. Kali ini, para pelajar Muslim yang datang ke Prancis untuk menuntut ilmu. Kedatangan para pelajar ini menjadi faktor penting yang mengambil peran besar dan penting dalam mendorong penyebaran Islam dan berkehidupan Islam di jantung negeri Napoleon Bonaparte ini.
Tahun 1985, diselenggarakan konferensi besar Islam yang dibiayai Rabithah Alam Islami (Organisasi Islam Dunia). Turut serta dalam konferensi itu 141 negara Islam dengan keputusan mendirikan Federasi Muslim Prancis.
Peristiwa besar ini tidak luput dari perhatian dunia, mengingat kehadiran umat Islam di salah satu negara Eropa selalu menjadi dilema bagi para penguasa setempat, terutama yang menyangkut ketenagakerjaan (buruh) dan masalah sosial.
Hasil konferensi dan terbentuknya federasi Muslim itu berhasil mempersatukan sebanyak 540 buah organisasi Islam di seluruh Prancis dan melindungi 1600 buah masjid, lembaga-lembaga pendidikan Islam, dan gedung-gedung milik umat Islam.
Dengan kondisi ini, barisan (saf) umat Islam pun semakin kokoh. Yang lebih menggembirakan lagi, kebanyakan anggota federasi yang menjalankan roda organisasi justru berasal dari kaum muda-mudi Muslim berkebangsaan Prancis sendiri.
Federasi ini bertujuan berperan aktif dalam menyukseskan kegiatan keislaman di Prancis dan memberikan pengetahuan dan pendidikan tentang Islam kepada warga Prancis.
Lembaga ini berperan besar dalam menjembatani umat Islam Prancis dengan pemerintah setempat, terutama dalam menyuarakan kepentingan umat Islam.
''Dengan kesepakatan ini, umat Islam punya hak yang sama dengan umat Katholik, Yahudi, dan Protestan,'' kata seorang menteri di pemerintahan, Nicolas Sarkozy.
Organisasi itu merupakan gabungan dari tiga organisasi besar Islam di Prancis, yakni Masjid Paris, Federasi Nasional Muslim, dan Persatuan Organisasi Islam Prancis.
Pelarangan Jilbab
Prancis, yang juga terkenal sebagai negara mode ini, pernah melarang Muslimah menggunakan jilbab sekitar tahun 1989. Pelajar Muslimah dikeluarkan dari kelas karena memakai jilbab, pekerja Muslimah dipecat dari kantornya karena mengenakan jilbab. Namun, mereka tidak menyerah begitu saja. Umat Islam Prancis menggoyang Paris dengan aksi-aksi demo menuntut kebebasan. Dan, umat Islam di berbagai negara pun turut melakukan protes atas kebijakan tersebut.
Akhirnya, pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan pada 2 November 1992 yang memperbolehkan para siswi Muslimah untuk mengenakan jilbab di sekolah-sekolah negeri.
Sekarang, tampilnya wanita-wanita berjilbab di Prancis menjadi satu fenomena keislaman yang sangat kuat di negeri tersebut. Mereka bukan hanya hadir di masjid-masjid atau pusat-pusat keagamaan Islam lainnya, melainkan juga di sekolah-sekolah negeri, perguruan tinggi negeri, dan tempat-tempat umum lainnya.
Banyak hal yang memengaruhi perkembangan Islam di Perancis. Salah satunya adalah Perang Teluk 1991 yang menyebabkan munculnya krisis identitas di kalangan anak muda Muslim di Prancis. Kondisi ini mendorong mereka lebih rajin datang ke masjid. Gerakan Intifada di Palestina juga mendorong makin banyaknya Muslim Perancis yang beribadah ke masjid.
Umat Islam di Prancis memiliki peranan yang sangat penting. Mereka memainkan peranan dalam semua sektor. Mulai dari pendidikan, lembaga keuangan, pemerintahan, olahraga, sosial, dan lainnya.
Bahkan, pada Perang Dunia I dan II, umat Islam di Eropa tercatat turut menentang pendudukan Nazi. Keikutsertaan umat Islam dalam menentang pendudukan Nazi menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan kemerdekaan Prancis.
Masjid dan Sekolah Islam Meningkat
Seiring dengan berkembangannya agama Islam di negara Prancis, jumlah sarana ibadah dan kegiatan keislaman pun semakin meningkat.
Menurut survei yang dilakukan kelompok Muslim Prancis, sampai tahun 2003, jumlah masjid di seantero Prancis mencapai 1.554 buah. Mulai dari yang berupa ruangan sewaan di bawah tanah sampai gedung yang dimiliki oleh warga Muslim dan dibangun di tempat-tempat umum.
Perkembangan Islam dan masjid di Prancis juga ditulis oleh seorang wartawan Prancis yang juga pakar tentang Islam, Xavier Ternisien. Dalam buku terbarunya, Ternisien menulis, di kawasan Saint Denis, sebelah utara Prancis, terdapat kurang lebih 97 masjid, sementara di selatan Prancis sebanyak 73 masjid.
Ternisien menambahkan, masjid-masjid yang banyak berdiri di Prancis dengan kubah-kubahnya yang khas menunjukkan bahwa Islam kini makin mengemuka di negara itu. Islam di Prancis bukan lagi agama yang di masa lalu bergerak secara diam-diam.
''Masjid-masjid yang ada di Prancis kini bahkan dibangun atas tanah milik warga Muslim sendiri, bukan lagi di tempat sewaan seperti pada masa lalu,'' ujarnya.
Tampaknya, pada tahun-tahun mendatang, jumlah masjid akan makin bertambah di Prancis. Sejumlah masjid yang ada sekarang terkadang tidak bisa menampung semua jamaah. Masjid di kawasan Belle Ville dan Barbes, misalnya, sebagian jamaah terpaksa harus shalat sampai ke pinggiran jalan.
Awalnya, masjid-masjid yang ada di Prancis didirikan oleh orang-orang Muslim asal Pakistan yang bekerja di pabrik-pabrik di Paris, Prancis. Mereka mengubah ruangan kecil tempat makan siang atau berganti pakaian menjadi ruangan untuk shalat. Terkadang, mereka menggunakan ruangan di asramanya sebagai sarana ibadah. Sehingga, hal itu terus berkembang dan menyebar.
Perkembangan yang terus meningkat itu membuat sebagian masyarakat Prancis khawatir. Masjid-masjid yang ada sering menjadi sasaran serangan yang berbau rasisme. Masa suram masjid di Prancis terjadi pada tahun 2001. Sejumlah masjid menjadi sasaran serangan dengan menggunakan bom molotov. Bahkan, ada masjid yang dibakar. Bentuk serangan lainnya adalah menggambari dinding-dinding masjid dan dinding rumah imam-imam masjid dengan lambang swastika. Namun, sejauh ini, belum ada organisasi hak asasi manusia atau asosiasi Muslim yang mempersoalkan serangan-serangan itu.
Sekolah
Tak hanya masjid yang tumbuh, lembaga pendidikan Islam di negeri mode ini pun turut berkembang. Sejumlah sekolah Islam berdiri di Prancis. Sampai kini, sedikitnya ada empat sekolah Muslim swasta.
''Pemerintah belum lama ini memberi izin untuk memulai operasi,'' ujar Mahmoud Awwad, sponsor dan direktur sekolah Education et Savior.
Awalnya, sebuah sekolah didirikan di Vitrerie, pinggiran selatan Paris. Kurikulumnya disesuaikan dengan kurikulum pendidikan nasional Prancis, namun ada tambahan pelajaran khusus muatan lokal tentang keislaman, seperti bahasa Arab dan agama Islam.
Education et Savior adalah sekolah kedua yang dibuka di Paris setelah sekolah Reussite di pinggiran Aubervilliers, utara Paris, dan yang keempat di Prancis. Dua sekolah swasta Islam lainnya adalah Ibn Rushd di Kota Lille, utara Prancis, dan Al-Kindi di Kota Lyon.
Selama ini, umat Islam di Prancis ingin memiliki sekolah swasta Islam setelah Paris melarang jilbab dan simbol keagamaan di sekolah negeri empat tahun lalu. Siswi Muslim yang memakai jilbab akan dikeluarkan dari sekolah dan kondisi ini membuat masa depan mereka suram.
Awwad mengaku, pihaknya tidak sulit mendapatkan izin pendirian sekolah Islam. ''Tidak seperti sekolah Al-Kindi, kami tidak menemui rintangan,'' ujar Awwad. Pembukaan Al-Kindi di Lyon mendapat hambatan saat dibuka pada 2006.
Academy of Lyon, badan pendidikan negara yang tertinggi di kota itu, menolak izin operasional sekolah itu dan menutup sekolah dengan alasan pihak sekolah tidak memenuhi standar kebersihan dan keselamatan. Namun, Pengadilan Administratif di Lyon membatalkan penutupan itu pada Februari tahun lalu. Ini berarti sekolah Al-Kindi bisa membuka ajaran baru pada Maret 2007.
Menurut para pemimpin Muslim Prancis, insiden di Al-Kindi justru mendorong masyarakat Muslim untuk membuka sekolah serupa. ''Kontroversi Al-Kindi mendobrak ketakutan di minoritas Muslim untuk memiliki sekolah lebih banyak,'' ujar Lhaj Thami Breze, ketua Organisasi Persatuan Islam di Prancis, UOIF. osa/taq
13 Mei 2009
as
THE UNDERGROUND IN THE UNDERGROUND
George Szirtes
Radio broadcast BBC Radio 4, 28.11.89
________________________________________________________________________
There is a tiny Metro Museum in the undergorund entrance to the Deák Square Metro station in Budapest. It consists of a shortened platform by which stands a single carriage of the 1896 Millennial Underground train. One of the enthusiastic older employees of the Budapest Transport Company is on hand to enlighten the visitor, who soon learns that the Budapest underground system is the second oldest in the world, after that of London, and that the Emperor Franz Joseph was seized with envy on seeing it. Even now the original service runs ion its shallow straight line under the main outward-bound road of the town, from central Vörösmarty Square towards City Park and beyond to Mexico Road.And as it runs, all the way along the route, the pavement trembles underfoot.like a thin historical membrane, and serves as a reminder of the prodigious efforts and remarkable optimism of the last century. The later lines of the Metro system belong to the nineteen-seventies and are a reminder of the changes of this century. The trains were made in Russia and carry notices in the cyrillic script of the very near East. It is, on the whole, a clean and efficient service, the two new lines colour-coded in red and blue respectively against a backdrop of silvery aluminium. Recently television has been introduced into some of the main stations. The sets offer a diet of brief information films set against longer tracks of current rock videos: Samantha Fox singing Dusty Springfield, Michael Jackson strutting and jerking his way through a glamorous mob of smooth operators.
At the main railway terminals this can attract quite a crowd. Around the crowd, and at every station of the underground, stand shops and booths selling books drinks and snacks. The ubiquitous newspaper stalls are here too with their selection of the four main dailies, a dozen or so weeklies and monthlies, and countless magazines devoted to crosswords and riddles, each featuring the Hungarian equivalent olf a Gorgeous Pouting Starbird on its cover. Closer to the stairs stand the individual vendors: gypsies with flowers or embroidered cloth, old men and women selling paprika or fruit in season. Here an old woman squats over a small selection of vegetables, a man in a suit exhibits a basket full of peaches. Further down the scale, littered between the shops and stalls, come the occasional drunks and beggars, relatively few for the moment and all the more striking for that. The drunks glare challengingly out at the world. The beggars fix their eyes on the ground. At Astoria station an ancient woman, brown and withered to the bone, is hunched against the wall as she begs. She looks petrified and angular, a piece of Expressionist sculpture. It is impossible to imagine her moving. She is as old as Egypt.
But the cyrillic letters of the Brezhnev era are fast receding down the tunnel. And who are these people coming down the stairs at Libberation Square and settling down with their wares? They look young, in their teens or early twenties. They spread a rug out and pull from their bags the latest unofficial publications: newspapers, pamphlets, magazines. This is - or was - the underground press. In the spring of 1989 it is difficult to know which tense to use: definitions have grown so slippery. What last year was strictly samizdat and passed conspiratorially from hand to hand is no longer forbidden. It lives in a no-man’s-land, a dreamworld which is itself in constant motion. Many of the authors appear to be in eternal transit. Some who left the coutnry last year as dissidents have returned as members of the official opposition. It is disorientating, both for them and the public at large. All the more so as the original underground press has been joined in the Metro by new commercial publishers. The two worlds overlap so that the same vendor sometimes carries both the party programme of the Free Democrats Alliance and pirated editions of books from the West. In a single station there may be three or four groups of paper vendors, often selling the same items. The revelations of the Romanian secret agent rub shoulder with the revelations of Ilona Staller, La Cicciolina. The first issue of the newspaper of the independent trade unions proclaims solidarity: their meetings, alas, are attended by disappointing handfuls of workers. A slick new daily review of parliament in session observes its break with a forty year tradition of boredom. Back issues of Hitel (or Credit), the paper of the major opposition group, the Hungarian Democratic Forum, lie beside the stapled and typed last issue of Beszélö (or Speaker), the great survivor of the heroic age of dissidence proper. Beszélö is about to close shop in order to re-open as a professionally published intellectual weekly.
But it’s not only books and magazines that appear on the rugs but patriotic badges, cassette recordings of old speeches, neatly packaged pieces of the Iron Curtain and sachets of earth from Imre Nagy’s grave. Martyrology and necrophilia collude with demand. History conducts an intense affair with nostalgia. It is appropriate that these brief encounters should take place at a railway station. The badges actually offer a choice: they bear the arms either of St Stephen’s monarchic Hungary, with crown, or of liberal Hungary, vintage 1848, without. A transition period keeps its options open.
Especially in the presence of some of the newcomers. In the course of the summer a newer kind of magazine appears in the underground. At first it is aesthetically clad in poetry and psychololgical jargon but this veil is quickly stripped away. To describe it as not quite hard pornography is awkwardly accurate, though the sell itself is anything but soft. These are not imports but home brew. Young men display open copies and push them towards passers-by with an aggressive, almost patriotic, pride.
The world of Cicciolina hovers in the air, a mirage among mirages. A pretty Hungarian girl, born brunette, she is now a pale blonde of mock Scandinavian, almost Viking appeal. The new all-colour daily, titled heroically Reform and sporting topless girls in the centre pages, spreads the rumour that Cicciolina’s Hungarian biographer, once a popular female singer, is launching a political party which advocates the re-opening of brothels. For the individual prostitue, as yet unaffected by the thought of privatised merger or state co-operatives, there is Rákoczi Square, just off the main ring road. A pair of successful new films vivdly chronicle their present lives. Their visual frankness shows the country perched in an awkward state of health somewhere between puritanism and prurience.
Censorship has collapsed leaving the old attitudes suspended in the air. There is nothing of substance to stand on. To ask someone to put their foot down assumes that there is something solid beneath their feet. The unbearable lightness of being has infected authority itself. Used to the arbitrary exercise of a power that passed for substance the police drift through streets and stations somewhat at a loss. At the Western Rail Terminal groups of neglected looking adolescents hang about the television. Some of them are travellers from abroad, others simply have nowhere else to go. The police eye them suspiciously, inspect their ID cards, search them for drugs, then let them go. Soon the groups are back again, their eyes flickering between the television and the movement round them. At the Eastern Rail Terminal the black market money-changers, mainly foreigners, almost outnumber the passengers. Asked to move on, one of them takes three paces to his left. It is the policeman who moves on.
There is nothing peculiarly Hungarian in this. Money is always leaking away in the Eastern Bloc but there is an aior of dizzy acceleration now. Hungarians spend their long-hoarded foreign currency on vast spending sprees in Vienna while the Austrians nip over the border for a cheap Hungarian haircut or a filling at a Hungarian dentists.
How often have I heard the phrase: We are living in historical times! Buying a red-white-and-green tricolour or cockade localises this history but does not necessarily remove the sense of detachment. The richer Germans, Italians, Austrians, Japanese, Africans and Arabs parade down the main shopping street trailed by suave if overdressed money-changers. Poorer Russians, Czechs, East Germans and Poles queue outside the Adidas shop, the prestige brand name unavaliable back home. The street runs from Liberation Square, the foacl point of the underground press, to pedestrianised and restored Vörösmarty Square, the hub of the city and terminal station of the old millennial underground. The square is approached through a motley of street musicians: an old man blows vainly into his mouth organ, a single violinist bows quietly while a bent man behind him plucks at a crude czimbalom. Nearby, rendering them both inaudible, is a line of four aged violinists forming an ostensible quartet but critically out of tune with each other. A row of instant portraitists extends behind the quartet. On different days a child conjuror, a juggler, or a group of singing evangelists might hold centre stage. A pair of young men are frozen like statues, dramatically switching poses when someone drops a coin into their box. A pop group records a video tape, an inflatable guitarist stands dumb by an amplified tape-deck. A pathetic man who cannot play the penny whistle ambles vaguely before the terrace of the expensive Gerbeaud confectionary. Everyone, sooner or later, finds the way to Vörösmarty Square. People sit at the foot of the large memorial sculpture at the centre and stare at the copper-coloured reflectiing glass of the state publishing building, which, in its turn, reflects the vast Luxus department store opposite. They write post cards or pick at the exotic cakes and ice-creams in the Gerbeaud. They have their portraits drawn. They observe and meet others like themselves.
As Austria and Hungary edge closer and Hungary strains to become the international bridge between East and West the concept of President Gorbachev;s ‘common European house’ gains ever greater importance. The buildings have never left Europe, of course. Around the Metro station stand some of the most picturesque classical buildings of the nineteenth century. Richly anthropomorphic, they are studded with sculptured faces, demonstrating serenity, fiendish energy, smug self-satisfaction and pure indifference. They stare down on smart little boutiques and dilapidated tobacconists with equal detachment.
I myself worked in Vörösmarty Square. Once or twice a week I would walk down to meet the editors at the publishing house in the copper-coloured building and discuss work done or contemplate fresh projects. Living just behind Liberation Square it was natural to examine the wares of the underground press and booths selling books on the way. I found it a deeply addictive pursuit and looked forward to each new publication. The noise of history rang in my ears too. The books and magazines were the sounds of the city whispering its changes.
Budapest is still a beautiful city, one of the noblest in Europe. I crept between the buildings like a child among overwhelming adults.
In early March there was a small scale gathering in support of the recently arrested Vaclav Havel. The speakers addressed us from one of the fountains in the corner of Vörösmarty Square. The weather was cool and grey. After the speeches a wreath of flowers was left by the statue. It stayed there, undisturbed, for several days. Two weeks later in the mass demonstrations celebrating the outbreak of the 1848 revolution the sunshine brought a wealth of bright banners. People were weeping as the crowd, like an enormous wheel, began to roll through the streets. A friend in a visiting American film crew shooting Budapest for Berlin remarked that it was like being in California in 1968. He took away with him the memory of an intoxicating smell of liberation. Indeed, it was intoxicating, and it was liberation. It still is. But there is an edge of fear to it.
Several times in my last months there I saw the samee vagrant couple. The first time was at a bus stop. The man was crouching on the pavement, peering through the woman’s legs. He looked first from one side then the other. It was an extraordinary performance. I took him for a drunk but she seemed to be undisturbed by his capers. She stood with her back to us, making no gesture of appeal. When the bus arrived and he got on she slowly turned and, with a glazed expression, followed him. Her face glowed as if bruised. Next time I saw them on the street near Liberation Square. He was just disappearing into an arcade, beckoning her to follow him. She did so mutely, almost doggily. Twice more I saw them, both times in Metro stations. It was on one of these occasions that I first heard him speak. They were coming down an escalator while I was riding up. His voice was thin, high, almost effeminate, but there was a mechanical and nagging quality in it. I suppose I must have heard five or six seconds of his conversation. I couldn’t make much sense of it. When they reached the bottom they set off, she behind him, moving slowly as if in some rough dream. Thinking back to her now I seem to see a vision out of some downmarket spiritus mundi, Yeats’s rough beast slouching towards Bethlehem.
There is something rough about the dream, something that unsettles the whole country. Who, or what, is the country following as it treads the moving staircase and disappears into the underground? The vision is not specifically Hungarian: the same nightmare images can be located in any metropolis. The bruised face follows the genie of its fate up and down the streets of Europe. That, after all, is an essential part of Europe’s fascination: we know that this fear of chaos can, and has been, realised.
Hungary watches Poland watches East Germany. Sharp words and threats are exchanged across the Czech and Romanian borders. The stone faces on the buildings express our fury, our frivolity, our love of rhetoric. In the quiet recesses of courtyards, in the cavernous rooms of old Empire flats with cracked windows, furious and frivolous lives are wrapped in the warmth and smell of human intimacy, which, for many people here, and in countries like Hungary, is the one constant that deepens and grows richer in its own subsoil, or underground.
The country is rolling down its present fearful and intoxicating historical path. Perhaps it is no more furious or frivolous than anywhere else. Like the rest of Europe it is in motion. In July, during Book Week, a band of majorettes tramped up and down Vörösmarty Square, an Austrian band played Scottish airs and you could be photographed shaking hands with a life-sized cut-out of President Bush.
Like Bush himself the effigy disappeared after a few days.
George Szirtes
Radio broadcast BBC Radio 4, 28.11.89
________________________________________________________________________
There is a tiny Metro Museum in the undergorund entrance to the Deák Square Metro station in Budapest. It consists of a shortened platform by which stands a single carriage of the 1896 Millennial Underground train. One of the enthusiastic older employees of the Budapest Transport Company is on hand to enlighten the visitor, who soon learns that the Budapest underground system is the second oldest in the world, after that of London, and that the Emperor Franz Joseph was seized with envy on seeing it. Even now the original service runs ion its shallow straight line under the main outward-bound road of the town, from central Vörösmarty Square towards City Park and beyond to Mexico Road.And as it runs, all the way along the route, the pavement trembles underfoot.like a thin historical membrane, and serves as a reminder of the prodigious efforts and remarkable optimism of the last century. The later lines of the Metro system belong to the nineteen-seventies and are a reminder of the changes of this century. The trains were made in Russia and carry notices in the cyrillic script of the very near East. It is, on the whole, a clean and efficient service, the two new lines colour-coded in red and blue respectively against a backdrop of silvery aluminium. Recently television has been introduced into some of the main stations. The sets offer a diet of brief information films set against longer tracks of current rock videos: Samantha Fox singing Dusty Springfield, Michael Jackson strutting and jerking his way through a glamorous mob of smooth operators.
At the main railway terminals this can attract quite a crowd. Around the crowd, and at every station of the underground, stand shops and booths selling books drinks and snacks. The ubiquitous newspaper stalls are here too with their selection of the four main dailies, a dozen or so weeklies and monthlies, and countless magazines devoted to crosswords and riddles, each featuring the Hungarian equivalent olf a Gorgeous Pouting Starbird on its cover. Closer to the stairs stand the individual vendors: gypsies with flowers or embroidered cloth, old men and women selling paprika or fruit in season. Here an old woman squats over a small selection of vegetables, a man in a suit exhibits a basket full of peaches. Further down the scale, littered between the shops and stalls, come the occasional drunks and beggars, relatively few for the moment and all the more striking for that. The drunks glare challengingly out at the world. The beggars fix their eyes on the ground. At Astoria station an ancient woman, brown and withered to the bone, is hunched against the wall as she begs. She looks petrified and angular, a piece of Expressionist sculpture. It is impossible to imagine her moving. She is as old as Egypt.
But the cyrillic letters of the Brezhnev era are fast receding down the tunnel. And who are these people coming down the stairs at Libberation Square and settling down with their wares? They look young, in their teens or early twenties. They spread a rug out and pull from their bags the latest unofficial publications: newspapers, pamphlets, magazines. This is - or was - the underground press. In the spring of 1989 it is difficult to know which tense to use: definitions have grown so slippery. What last year was strictly samizdat and passed conspiratorially from hand to hand is no longer forbidden. It lives in a no-man’s-land, a dreamworld which is itself in constant motion. Many of the authors appear to be in eternal transit. Some who left the coutnry last year as dissidents have returned as members of the official opposition. It is disorientating, both for them and the public at large. All the more so as the original underground press has been joined in the Metro by new commercial publishers. The two worlds overlap so that the same vendor sometimes carries both the party programme of the Free Democrats Alliance and pirated editions of books from the West. In a single station there may be three or four groups of paper vendors, often selling the same items. The revelations of the Romanian secret agent rub shoulder with the revelations of Ilona Staller, La Cicciolina. The first issue of the newspaper of the independent trade unions proclaims solidarity: their meetings, alas, are attended by disappointing handfuls of workers. A slick new daily review of parliament in session observes its break with a forty year tradition of boredom. Back issues of Hitel (or Credit), the paper of the major opposition group, the Hungarian Democratic Forum, lie beside the stapled and typed last issue of Beszélö (or Speaker), the great survivor of the heroic age of dissidence proper. Beszélö is about to close shop in order to re-open as a professionally published intellectual weekly.
But it’s not only books and magazines that appear on the rugs but patriotic badges, cassette recordings of old speeches, neatly packaged pieces of the Iron Curtain and sachets of earth from Imre Nagy’s grave. Martyrology and necrophilia collude with demand. History conducts an intense affair with nostalgia. It is appropriate that these brief encounters should take place at a railway station. The badges actually offer a choice: they bear the arms either of St Stephen’s monarchic Hungary, with crown, or of liberal Hungary, vintage 1848, without. A transition period keeps its options open.
Especially in the presence of some of the newcomers. In the course of the summer a newer kind of magazine appears in the underground. At first it is aesthetically clad in poetry and psychololgical jargon but this veil is quickly stripped away. To describe it as not quite hard pornography is awkwardly accurate, though the sell itself is anything but soft. These are not imports but home brew. Young men display open copies and push them towards passers-by with an aggressive, almost patriotic, pride.
The world of Cicciolina hovers in the air, a mirage among mirages. A pretty Hungarian girl, born brunette, she is now a pale blonde of mock Scandinavian, almost Viking appeal. The new all-colour daily, titled heroically Reform and sporting topless girls in the centre pages, spreads the rumour that Cicciolina’s Hungarian biographer, once a popular female singer, is launching a political party which advocates the re-opening of brothels. For the individual prostitue, as yet unaffected by the thought of privatised merger or state co-operatives, there is Rákoczi Square, just off the main ring road. A pair of successful new films vivdly chronicle their present lives. Their visual frankness shows the country perched in an awkward state of health somewhere between puritanism and prurience.
Censorship has collapsed leaving the old attitudes suspended in the air. There is nothing of substance to stand on. To ask someone to put their foot down assumes that there is something solid beneath their feet. The unbearable lightness of being has infected authority itself. Used to the arbitrary exercise of a power that passed for substance the police drift through streets and stations somewhat at a loss. At the Western Rail Terminal groups of neglected looking adolescents hang about the television. Some of them are travellers from abroad, others simply have nowhere else to go. The police eye them suspiciously, inspect their ID cards, search them for drugs, then let them go. Soon the groups are back again, their eyes flickering between the television and the movement round them. At the Eastern Rail Terminal the black market money-changers, mainly foreigners, almost outnumber the passengers. Asked to move on, one of them takes three paces to his left. It is the policeman who moves on.
There is nothing peculiarly Hungarian in this. Money is always leaking away in the Eastern Bloc but there is an aior of dizzy acceleration now. Hungarians spend their long-hoarded foreign currency on vast spending sprees in Vienna while the Austrians nip over the border for a cheap Hungarian haircut or a filling at a Hungarian dentists.
How often have I heard the phrase: We are living in historical times! Buying a red-white-and-green tricolour or cockade localises this history but does not necessarily remove the sense of detachment. The richer Germans, Italians, Austrians, Japanese, Africans and Arabs parade down the main shopping street trailed by suave if overdressed money-changers. Poorer Russians, Czechs, East Germans and Poles queue outside the Adidas shop, the prestige brand name unavaliable back home. The street runs from Liberation Square, the foacl point of the underground press, to pedestrianised and restored Vörösmarty Square, the hub of the city and terminal station of the old millennial underground. The square is approached through a motley of street musicians: an old man blows vainly into his mouth organ, a single violinist bows quietly while a bent man behind him plucks at a crude czimbalom. Nearby, rendering them both inaudible, is a line of four aged violinists forming an ostensible quartet but critically out of tune with each other. A row of instant portraitists extends behind the quartet. On different days a child conjuror, a juggler, or a group of singing evangelists might hold centre stage. A pair of young men are frozen like statues, dramatically switching poses when someone drops a coin into their box. A pop group records a video tape, an inflatable guitarist stands dumb by an amplified tape-deck. A pathetic man who cannot play the penny whistle ambles vaguely before the terrace of the expensive Gerbeaud confectionary. Everyone, sooner or later, finds the way to Vörösmarty Square. People sit at the foot of the large memorial sculpture at the centre and stare at the copper-coloured reflectiing glass of the state publishing building, which, in its turn, reflects the vast Luxus department store opposite. They write post cards or pick at the exotic cakes and ice-creams in the Gerbeaud. They have their portraits drawn. They observe and meet others like themselves.
As Austria and Hungary edge closer and Hungary strains to become the international bridge between East and West the concept of President Gorbachev;s ‘common European house’ gains ever greater importance. The buildings have never left Europe, of course. Around the Metro station stand some of the most picturesque classical buildings of the nineteenth century. Richly anthropomorphic, they are studded with sculptured faces, demonstrating serenity, fiendish energy, smug self-satisfaction and pure indifference. They stare down on smart little boutiques and dilapidated tobacconists with equal detachment.
I myself worked in Vörösmarty Square. Once or twice a week I would walk down to meet the editors at the publishing house in the copper-coloured building and discuss work done or contemplate fresh projects. Living just behind Liberation Square it was natural to examine the wares of the underground press and booths selling books on the way. I found it a deeply addictive pursuit and looked forward to each new publication. The noise of history rang in my ears too. The books and magazines were the sounds of the city whispering its changes.
Budapest is still a beautiful city, one of the noblest in Europe. I crept between the buildings like a child among overwhelming adults.
In early March there was a small scale gathering in support of the recently arrested Vaclav Havel. The speakers addressed us from one of the fountains in the corner of Vörösmarty Square. The weather was cool and grey. After the speeches a wreath of flowers was left by the statue. It stayed there, undisturbed, for several days. Two weeks later in the mass demonstrations celebrating the outbreak of the 1848 revolution the sunshine brought a wealth of bright banners. People were weeping as the crowd, like an enormous wheel, began to roll through the streets. A friend in a visiting American film crew shooting Budapest for Berlin remarked that it was like being in California in 1968. He took away with him the memory of an intoxicating smell of liberation. Indeed, it was intoxicating, and it was liberation. It still is. But there is an edge of fear to it.
Several times in my last months there I saw the samee vagrant couple. The first time was at a bus stop. The man was crouching on the pavement, peering through the woman’s legs. He looked first from one side then the other. It was an extraordinary performance. I took him for a drunk but she seemed to be undisturbed by his capers. She stood with her back to us, making no gesture of appeal. When the bus arrived and he got on she slowly turned and, with a glazed expression, followed him. Her face glowed as if bruised. Next time I saw them on the street near Liberation Square. He was just disappearing into an arcade, beckoning her to follow him. She did so mutely, almost doggily. Twice more I saw them, both times in Metro stations. It was on one of these occasions that I first heard him speak. They were coming down an escalator while I was riding up. His voice was thin, high, almost effeminate, but there was a mechanical and nagging quality in it. I suppose I must have heard five or six seconds of his conversation. I couldn’t make much sense of it. When they reached the bottom they set off, she behind him, moving slowly as if in some rough dream. Thinking back to her now I seem to see a vision out of some downmarket spiritus mundi, Yeats’s rough beast slouching towards Bethlehem.
There is something rough about the dream, something that unsettles the whole country. Who, or what, is the country following as it treads the moving staircase and disappears into the underground? The vision is not specifically Hungarian: the same nightmare images can be located in any metropolis. The bruised face follows the genie of its fate up and down the streets of Europe. That, after all, is an essential part of Europe’s fascination: we know that this fear of chaos can, and has been, realised.
Hungary watches Poland watches East Germany. Sharp words and threats are exchanged across the Czech and Romanian borders. The stone faces on the buildings express our fury, our frivolity, our love of rhetoric. In the quiet recesses of courtyards, in the cavernous rooms of old Empire flats with cracked windows, furious and frivolous lives are wrapped in the warmth and smell of human intimacy, which, for many people here, and in countries like Hungary, is the one constant that deepens and grows richer in its own subsoil, or underground.
The country is rolling down its present fearful and intoxicating historical path. Perhaps it is no more furious or frivolous than anywhere else. Like the rest of Europe it is in motion. In July, during Book Week, a band of majorettes tramped up and down Vörösmarty Square, an Austrian band played Scottish airs and you could be photographed shaking hands with a life-sized cut-out of President Bush.
Like Bush himself the effigy disappeared after a few days.
21 April 2009
Arti Ungkapan
1) Ada sama dimakan, tak ada sama ditahan
(Artinya: Bersama - sama berbahagia, bersama - sama menderita)
2) Ada gula ada semut
(Artinya: Orang yang kaya/banyak harta sering dikunjungi orang)
3) Ada aku dipandang hadap, tiada aku pandang belakang
(Artinya: Di depan bermulut manis, dibelakang perkataannya busuk)
4) Adat gunung tempatan kabut
(Artinya: Kepada yang pandai kita bertanya dan kepada yang kaya kita meminta/meminjam)
5) Anak baik menantu molek
(Artinya: Memperoleh bermacam - macam keuntungan)
6) Anjing galak, babi berani
(Artinya: Kedua belah pihak masing - masing sama berani)
7) Anjing mengulangi bangkai
(Artinya: Pelacur mengulangi menjalani profesinya)
8) Air besar batu bersibak
(Artinya: Bila ada bahaya atau malapetaka, tiap - tiap orang biasanya mencari kaumnya atau keluarganya atau bangsanya atau kalanganya)
9) Air susu dibalas dengan air tuba
(Artinya: Kebaikan dibalas dengan kejahatan)
10) Air tenang menghanyutkan
(Artinya: Orang yang diam banyak pengetahuannya)
11) Air cucuran atap jatuhnya kepelimbahan juga
(Artinya: Tingkah laku anak meniru tingkah laku orang tuanya)
12) Air yang tenang jangan disangka tiada berbahaya
(Artinya: Orang pendiam jangan dianggap penakut atau dapat dipermainkan)
13) Air yang dingin juga dapat memadamkan api
(Artinya: Perkataan yang lemah - lembut dapat menenangkan orang yang sedang marah dan panas hati)
14) Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam
(Artinya: Makan dan minum terasa tak enak karena hati sedang gelisah)
15) Air beriak tanda tak dalam
(Artinya: Banyak bicaranya tetapi tidak banyak pengetahuannya atau pengalamannya)
16) Bagai ayam bertelur di padi
(Artinya: Hidup senang tak kekurangan sesuatu apapun)
17) Bagai Anjing menggonggong (menyalak) di ekor gajah
(Artinya: Seorang yang hina - dina melawan seorang yan mulia dan berkuasa)
18) Bagai memakai baju pinjaman (dipinjam)
(Artinya: Kelihatan tidak patut dan canggung apabila tingkah - laku kita tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya)
19) Bagai balam dengan ketitiran
(Artinya: Selalu berselisih, tak dapat bersatu padu)
20) Bagai baling - baling di atas bukit
(Artinya: Berpikiran tidak tetap, selalu dapat dipengaruhi orang)
21) Bagai kuku dengan daging
(Artinya: Kasih - sayang yang tak terhingga)
22) Bagai si lumpuh pergi merantau
(Artinya: Melakukan suatu pekerjaan yang tidak mungkin dikerjakan, tidak mungkin pula memberikan hasil)
23) Banyak habis, sedikit sedang
(Artinya: Uang/harta yang banyak akan habis juga terpakai, sedangkan uang/harta yang sedikit dapat juga mencukupi. Cukup atau tidaknya uang/harta seseorang bergantung pada hemat atau borosnya orang tersebut)
24) Bagai berpijak di bara hangat
(Artinya: Orang yang gelisah karena kemalangan atau terganggu pikirannya)
25) Bau busuk tiada berbangkai
(Artinya: Celaan/hinaan yang tidak benar karena tidak ada buktinya)
26) Baunya setahun pelajaran
(Artinya: Bau yang teramat sangat)
27) Bapak burik, anaknya tentu rintik
(Artinya: Sedikit banyak sifat seseorang akan turun kepada anaknya)
28) Bergantung pada akar lapuk
(Artinya: Mengaharapkan bantuan kepada seseorang yang sama sekali tidak dapat memberi bantuan)
29) Belum beranak sudah berbesan
(Artinya: Belum berhasil mendapatkan sesuatu , tetapi sudah merasa berhasil)
30) Belum beranak sudah ditimang
(Artinya: Belum berhasil mendapatkan sesuatu , tetapi sudah merasa berhasil)
31) Belum berkuku hendak mencubit
(Artinya: Belum berkuasa tetapi sudah mencari - cari kesalahan orang)
32) Bayang - Bayang sepanjang badan
(Artinya: Perbuatan kita harus sesuai dengan kekuatan dan keadaan kita sendiri)
33) Bayang - bayang sepanjang tubuh
(Artinya: Mengharapkan sesuatu yang belum tentu diperoleh)
34) Beranak tiada berbidan
(Artinya: Menderita kesusahan karena kebodohan)
35) Berbilang dari esa, mengaji dari alif
(Artinya: Mengerjakan sesuatu harus dari permulaan, kemudian berangsur - angsur sampai selesai)
36) Buka kulit ambil isi
(Artinya: Merundingkan sesuatu dengan terus terang, tidak ada hal - hal yang disembunyikan oleh kedua belah pihak)
37) Dapat durian runtuh
(Artinya: Mendapat keuntungan yang besar tanpa bersusah - payah)
38) Dapat karun timbul
(Artinya: Mendapat keuntungan yang besar tanpa bersusah - payah)
39) Dapat kopi pahit
(Artinya: Mendapat teguran/peringatan yang keras dari pimpinan/atasannya)
40) Disangka tiada akan mengaram, ombak yang kecil diabaikan
(Artinya: Kelalaian/kesalahan yang kecil dapat berubah menjadi bencana yang besar dan membinasakan)
41) Di luar bagai madu, di dalam bagai empedu
(Artinya: Ucapannya sangat manis, tetapi hatinya sangat jahat)
42) Di luar merah, di dalam pahit
(Artinya: Ucapannya sangat manis, tetapi hatinya sangat jahat)
43) Duduk meraut ranjau, berdiri melihat musuh
(Artinya: Terus - menerus bekerja, tak suka membuang waktu)
44) Digenggam takut mati, dilepas takut terbang
(Artinya: Sesuatu hal yang sangat pelik/sukar, karena apabila dibuang atau disimpan sama - sama merugikan)
45) Habis manis sepah dibuang
(Artinya: Suatu barang atau seseorang yang tidak dipedulikan atau dilupakan karena tidak ada lagi manfaatnya)
46) Hendak tinggi terlalu jauh, hendak panjang terlalu patah
(Artinya: Baranh siapa dengan sengaja berbuat kesalahan/keangkuhan akhirnya akan celaka juga)
47) Hidup segan mati tak mau
(Artinya: Hidup penuh penderitaan karena menderita penyakit yang berkepanjangan)
48) Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah
(Artinya: Selama kita hidup harus patuh pada hukum dan aturan - aturan, karena kita akan mempertanggungjawabkannya ketika meninggal)
49) Hilang tentu rimbanya, mati tentu kuburnya
(Artinya: Suatu masalah yang jelas dan tuntas)
50) Hilang di mata, di hati jangan
(Artinya: Walaupun tak dapat dipandang/dilihat lagi, tetapi hendaknya selalu diingat di dalam hati)
(Artinya: Bersama - sama berbahagia, bersama - sama menderita)
2) Ada gula ada semut
(Artinya: Orang yang kaya/banyak harta sering dikunjungi orang)
3) Ada aku dipandang hadap, tiada aku pandang belakang
(Artinya: Di depan bermulut manis, dibelakang perkataannya busuk)
4) Adat gunung tempatan kabut
(Artinya: Kepada yang pandai kita bertanya dan kepada yang kaya kita meminta/meminjam)
5) Anak baik menantu molek
(Artinya: Memperoleh bermacam - macam keuntungan)
6) Anjing galak, babi berani
(Artinya: Kedua belah pihak masing - masing sama berani)
7) Anjing mengulangi bangkai
(Artinya: Pelacur mengulangi menjalani profesinya)
8) Air besar batu bersibak
(Artinya: Bila ada bahaya atau malapetaka, tiap - tiap orang biasanya mencari kaumnya atau keluarganya atau bangsanya atau kalanganya)
9) Air susu dibalas dengan air tuba
(Artinya: Kebaikan dibalas dengan kejahatan)
10) Air tenang menghanyutkan
(Artinya: Orang yang diam banyak pengetahuannya)
11) Air cucuran atap jatuhnya kepelimbahan juga
(Artinya: Tingkah laku anak meniru tingkah laku orang tuanya)
12) Air yang tenang jangan disangka tiada berbahaya
(Artinya: Orang pendiam jangan dianggap penakut atau dapat dipermainkan)
13) Air yang dingin juga dapat memadamkan api
(Artinya: Perkataan yang lemah - lembut dapat menenangkan orang yang sedang marah dan panas hati)
14) Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam
(Artinya: Makan dan minum terasa tak enak karena hati sedang gelisah)
15) Air beriak tanda tak dalam
(Artinya: Banyak bicaranya tetapi tidak banyak pengetahuannya atau pengalamannya)
16) Bagai ayam bertelur di padi
(Artinya: Hidup senang tak kekurangan sesuatu apapun)
17) Bagai Anjing menggonggong (menyalak) di ekor gajah
(Artinya: Seorang yang hina - dina melawan seorang yan mulia dan berkuasa)
18) Bagai memakai baju pinjaman (dipinjam)
(Artinya: Kelihatan tidak patut dan canggung apabila tingkah - laku kita tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya)
19) Bagai balam dengan ketitiran
(Artinya: Selalu berselisih, tak dapat bersatu padu)
20) Bagai baling - baling di atas bukit
(Artinya: Berpikiran tidak tetap, selalu dapat dipengaruhi orang)
21) Bagai kuku dengan daging
(Artinya: Kasih - sayang yang tak terhingga)
22) Bagai si lumpuh pergi merantau
(Artinya: Melakukan suatu pekerjaan yang tidak mungkin dikerjakan, tidak mungkin pula memberikan hasil)
23) Banyak habis, sedikit sedang
(Artinya: Uang/harta yang banyak akan habis juga terpakai, sedangkan uang/harta yang sedikit dapat juga mencukupi. Cukup atau tidaknya uang/harta seseorang bergantung pada hemat atau borosnya orang tersebut)
24) Bagai berpijak di bara hangat
(Artinya: Orang yang gelisah karena kemalangan atau terganggu pikirannya)
25) Bau busuk tiada berbangkai
(Artinya: Celaan/hinaan yang tidak benar karena tidak ada buktinya)
26) Baunya setahun pelajaran
(Artinya: Bau yang teramat sangat)
27) Bapak burik, anaknya tentu rintik
(Artinya: Sedikit banyak sifat seseorang akan turun kepada anaknya)
28) Bergantung pada akar lapuk
(Artinya: Mengaharapkan bantuan kepada seseorang yang sama sekali tidak dapat memberi bantuan)
29) Belum beranak sudah berbesan
(Artinya: Belum berhasil mendapatkan sesuatu , tetapi sudah merasa berhasil)
30) Belum beranak sudah ditimang
(Artinya: Belum berhasil mendapatkan sesuatu , tetapi sudah merasa berhasil)
31) Belum berkuku hendak mencubit
(Artinya: Belum berkuasa tetapi sudah mencari - cari kesalahan orang)
32) Bayang - Bayang sepanjang badan
(Artinya: Perbuatan kita harus sesuai dengan kekuatan dan keadaan kita sendiri)
33) Bayang - bayang sepanjang tubuh
(Artinya: Mengharapkan sesuatu yang belum tentu diperoleh)
34) Beranak tiada berbidan
(Artinya: Menderita kesusahan karena kebodohan)
35) Berbilang dari esa, mengaji dari alif
(Artinya: Mengerjakan sesuatu harus dari permulaan, kemudian berangsur - angsur sampai selesai)
36) Buka kulit ambil isi
(Artinya: Merundingkan sesuatu dengan terus terang, tidak ada hal - hal yang disembunyikan oleh kedua belah pihak)
37) Dapat durian runtuh
(Artinya: Mendapat keuntungan yang besar tanpa bersusah - payah)
38) Dapat karun timbul
(Artinya: Mendapat keuntungan yang besar tanpa bersusah - payah)
39) Dapat kopi pahit
(Artinya: Mendapat teguran/peringatan yang keras dari pimpinan/atasannya)
40) Disangka tiada akan mengaram, ombak yang kecil diabaikan
(Artinya: Kelalaian/kesalahan yang kecil dapat berubah menjadi bencana yang besar dan membinasakan)
41) Di luar bagai madu, di dalam bagai empedu
(Artinya: Ucapannya sangat manis, tetapi hatinya sangat jahat)
42) Di luar merah, di dalam pahit
(Artinya: Ucapannya sangat manis, tetapi hatinya sangat jahat)
43) Duduk meraut ranjau, berdiri melihat musuh
(Artinya: Terus - menerus bekerja, tak suka membuang waktu)
44) Digenggam takut mati, dilepas takut terbang
(Artinya: Sesuatu hal yang sangat pelik/sukar, karena apabila dibuang atau disimpan sama - sama merugikan)
45) Habis manis sepah dibuang
(Artinya: Suatu barang atau seseorang yang tidak dipedulikan atau dilupakan karena tidak ada lagi manfaatnya)
46) Hendak tinggi terlalu jauh, hendak panjang terlalu patah
(Artinya: Baranh siapa dengan sengaja berbuat kesalahan/keangkuhan akhirnya akan celaka juga)
47) Hidup segan mati tak mau
(Artinya: Hidup penuh penderitaan karena menderita penyakit yang berkepanjangan)
48) Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah
(Artinya: Selama kita hidup harus patuh pada hukum dan aturan - aturan, karena kita akan mempertanggungjawabkannya ketika meninggal)
49) Hilang tentu rimbanya, mati tentu kuburnya
(Artinya: Suatu masalah yang jelas dan tuntas)
50) Hilang di mata, di hati jangan
(Artinya: Walaupun tak dapat dipandang/dilihat lagi, tetapi hendaknya selalu diingat di dalam hati)
20 April 2009
1) Jika kamu mendapat kesusahan, ingatlah menyimpan kesabaran.
2) Menghitung orang-orang gila di suatu negeri lebih sulit daripada menghitung orang-orang yang berakal.
3) Orang yang paling tidak bahagia ialah mereka yang paling takut pada perubahan.
4) Nilai hidup harus diukur dengan garis yang lebih mulia, iaitu kerja dan bukannya usia.
5) Kecantikan hanya sedalam kulit, tetapi masuk ke dalam tulang.
6) Kita patut berkorban supaya orang lain juga merasai kemanisan hidup.
7) Keruntuhan keluarga telah melahirkan generasi yang lemah.
8) Rahasia untuk berjaya ialah menghormati orang lain.
9) Ikhlaslah menjadi diri sendiri agar hidup penuh dengan ketenangan dan keamanan.
10) Kecemerlangan sebenar adalah apabila kamu dihantam sehingga bertekuk lutut, tetapi mampu melantun kembali.
11) Di balik keindahan rumah tersergam, di balik senyum dan tawa, seseorang insan itu mungkin dilanda kepahitan dan kekecewaan yang tidak diketahui orang lain.
12) Semiskin-miskin orang ialah orang yang kekurangan adab dan budi pekerti.
13) Ciri orang yang beradab ialah dia sangat rajin dan suka belajar, dia tidak malu belajar daripada orang yang berkedudukan lebih rendah darinya.
14) Jangan tanya apa yang dibuat oleh negara untukmu, tapi tanyalah apa yang boleh kamu buat untuk Negara.
15) Jangan mengharapkan kebaikan dari orang yang tidak mengharapkan kebaikan dari kamu.
16) Hidup biar beradab, bukan hidup untuk biadap.
17) Rakyat itu akar bangsa. Jika akarnya sehat, pokoknya pun sehat.
18) Agama tanpa ilmu adalah buta. Ilmu tanpa agama adalah lumpuh.
19) Teman manusia yang sebenar ialah akal dan musuhnya yang celaka ialah jahil.
20) Memohon doa kepada Tuhan adalah laksana samudera yang dapat mencapai setiap sudut pantai keperluan hidup manusia.
21) Sesuatu khayalan kadang-kadang menjadi reality.
22) Jika manusia masih tetap jahat dengan adanya agama, bagaimana lagi jika tiada agama.
23) Jangan memandang ke bawah (untuk mengetahui kekuatan tanah yang dipijak) sebelum memulakan langkah .Hanya mereka yang menetapkan pandangan mereka ke arah horizon yang jauh dihadapan sahaja yang akan menemui jalan sebenar.
24) Jangan mengukur kebijaksanaan seseorang hanya kerana kepandaiannya berkata-kata tetapi juga perlu dinilai buah fikiran serta tingkah lakunya. surat lamaran kerja.
25) Sesungguhnya apa yang kita lihat serupa sebenarnya tidak semestinya sama.
2) Menghitung orang-orang gila di suatu negeri lebih sulit daripada menghitung orang-orang yang berakal.
3) Orang yang paling tidak bahagia ialah mereka yang paling takut pada perubahan.
4) Nilai hidup harus diukur dengan garis yang lebih mulia, iaitu kerja dan bukannya usia.
5) Kecantikan hanya sedalam kulit, tetapi masuk ke dalam tulang.
6) Kita patut berkorban supaya orang lain juga merasai kemanisan hidup.
7) Keruntuhan keluarga telah melahirkan generasi yang lemah.
8) Rahasia untuk berjaya ialah menghormati orang lain.
9) Ikhlaslah menjadi diri sendiri agar hidup penuh dengan ketenangan dan keamanan.
10) Kecemerlangan sebenar adalah apabila kamu dihantam sehingga bertekuk lutut, tetapi mampu melantun kembali.
11) Di balik keindahan rumah tersergam, di balik senyum dan tawa, seseorang insan itu mungkin dilanda kepahitan dan kekecewaan yang tidak diketahui orang lain.
12) Semiskin-miskin orang ialah orang yang kekurangan adab dan budi pekerti.
13) Ciri orang yang beradab ialah dia sangat rajin dan suka belajar, dia tidak malu belajar daripada orang yang berkedudukan lebih rendah darinya.
14) Jangan tanya apa yang dibuat oleh negara untukmu, tapi tanyalah apa yang boleh kamu buat untuk Negara.
15) Jangan mengharapkan kebaikan dari orang yang tidak mengharapkan kebaikan dari kamu.
16) Hidup biar beradab, bukan hidup untuk biadap.
17) Rakyat itu akar bangsa. Jika akarnya sehat, pokoknya pun sehat.
18) Agama tanpa ilmu adalah buta. Ilmu tanpa agama adalah lumpuh.
19) Teman manusia yang sebenar ialah akal dan musuhnya yang celaka ialah jahil.
20) Memohon doa kepada Tuhan adalah laksana samudera yang dapat mencapai setiap sudut pantai keperluan hidup manusia.
21) Sesuatu khayalan kadang-kadang menjadi reality.
22) Jika manusia masih tetap jahat dengan adanya agama, bagaimana lagi jika tiada agama.
23) Jangan memandang ke bawah (untuk mengetahui kekuatan tanah yang dipijak) sebelum memulakan langkah .Hanya mereka yang menetapkan pandangan mereka ke arah horizon yang jauh dihadapan sahaja yang akan menemui jalan sebenar.
24) Jangan mengukur kebijaksanaan seseorang hanya kerana kepandaiannya berkata-kata tetapi juga perlu dinilai buah fikiran serta tingkah lakunya. surat lamaran kerja.
25) Sesungguhnya apa yang kita lihat serupa sebenarnya tidak semestinya sama.
25) Sesungguhnya apa yang kita lihat serupa sebenarnya tidak semestinya sama.
26) Akhlak yang buruk itu ibarat tembikar yang pecah. Tidak dapat dilekatkan lagi dan tidak dapat dikembalikan menjadi tanah.
27) Sahabat sejati dan setia adalah lebih bernilai dari semua emas di dunia ini.
28) Peperangan hanya boleh menjanjikan kemenangan selepas kemusnahan dan kematian.
29) Adalah mudah menukarkan status seorang sahabat menjadi kekasih daripada bekas kekasih menjadi sahabat.
30) Bangsa penakut tidak boleh merdeka dan tidak berhak merdeka. Ketakutan adalah penasihat yang sangat curang untuk kemerdekaan.
31) Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai sesuatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa merdeka.
32) Orang yang berjaya dalam hidup adalah orang yang nampak tujuannya dengan jelas dan menjurus kepadanya tanpa menyimpang.
33) Jangan biarkan perahu hanyut tak berpenghuni nanti hanyutnya tidak singgah ke pelabuhan.
34) Ukuran yang paling tinggi tentang adab seseorang itu, ia wajib menaruh perasaan malu akan dirinya terlebih dahulu.
35) Jembatan menjadi penghubung antara dua buah kampung, pernikahan menjadi penghubung antara dua insan dan anak menjadi penghubung antara ibu dan ayah.
36) Tiada manusia yang bergembira sepanjang masa tetapi ia nya bukanlah suatu alasan untuk hidup sengsara.
37) Kesempatan yang kecil seringkali merupakan permulaan kepada usaha yang besar.
38) Menyesal tidak berbicara lebih baik daripada menyesal berbicara.
39) Sesungguhnya orang yang berakal itu menyembunyikan rahsianya, dan orang yang jahil membuka keaibannya.
40) Anda akan mempunyai ramai kenalan jika anda meminati mereka dan bukannya cuba membuat mereka meminati anda.
41) Rahasia kejayaan hidup adalah persediaan manusia untuk menyambut kesempatan yang menjelma.
42) Anda tidak boleh mencipta pengalaman. Anda mesti menghadapinya.
43) Harta tidak akan berkurang kerana sedekah dan melakukan amal.
44) Sahabat sejati umpama pohon rendang tempat kita berteduh.
45) Manusia biasanya lebih menghargai sesuatu yang sukar diperoleh tetapi sering melupakan nikmat yang telah tersedia.
46) Kekuatan tidak datang dari kemampuan fizikal,tetapi ianya datang dari semangat yang tidak pernah mengalah.
47) Mengetahui perkara yang betul tidak memadai dan bermakna jika tidak melakukan perkara yang benar.
48) Kecemerlangan adalah hasil daripada sikap yang ingin sentiasa melakukan yang terbaik.
49) Manusia tidak perlu dihukum kerana lupa, tetapi manusia perlu dihukum kerana sengaja lupa.
50) Barangsiapa mempertimbangkan keselamatan dalam tindakannya, maka tenanglah batinnya.
26) Akhlak yang buruk itu ibarat tembikar yang pecah. Tidak dapat dilekatkan lagi dan tidak dapat dikembalikan menjadi tanah.
27) Sahabat sejati dan setia adalah lebih bernilai dari semua emas di dunia ini.
28) Peperangan hanya boleh menjanjikan kemenangan selepas kemusnahan dan kematian.
29) Adalah mudah menukarkan status seorang sahabat menjadi kekasih daripada bekas kekasih menjadi sahabat.
30) Bangsa penakut tidak boleh merdeka dan tidak berhak merdeka. Ketakutan adalah penasihat yang sangat curang untuk kemerdekaan.
31) Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai sesuatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa merdeka.
32) Orang yang berjaya dalam hidup adalah orang yang nampak tujuannya dengan jelas dan menjurus kepadanya tanpa menyimpang.
33) Jangan biarkan perahu hanyut tak berpenghuni nanti hanyutnya tidak singgah ke pelabuhan.
34) Ukuran yang paling tinggi tentang adab seseorang itu, ia wajib menaruh perasaan malu akan dirinya terlebih dahulu.
35) Jembatan menjadi penghubung antara dua buah kampung, pernikahan menjadi penghubung antara dua insan dan anak menjadi penghubung antara ibu dan ayah.
36) Tiada manusia yang bergembira sepanjang masa tetapi ia nya bukanlah suatu alasan untuk hidup sengsara.
37) Kesempatan yang kecil seringkali merupakan permulaan kepada usaha yang besar.
38) Menyesal tidak berbicara lebih baik daripada menyesal berbicara.
39) Sesungguhnya orang yang berakal itu menyembunyikan rahsianya, dan orang yang jahil membuka keaibannya.
40) Anda akan mempunyai ramai kenalan jika anda meminati mereka dan bukannya cuba membuat mereka meminati anda.
41) Rahasia kejayaan hidup adalah persediaan manusia untuk menyambut kesempatan yang menjelma.
42) Anda tidak boleh mencipta pengalaman. Anda mesti menghadapinya.
43) Harta tidak akan berkurang kerana sedekah dan melakukan amal.
44) Sahabat sejati umpama pohon rendang tempat kita berteduh.
45) Manusia biasanya lebih menghargai sesuatu yang sukar diperoleh tetapi sering melupakan nikmat yang telah tersedia.
46) Kekuatan tidak datang dari kemampuan fizikal,tetapi ianya datang dari semangat yang tidak pernah mengalah.
47) Mengetahui perkara yang betul tidak memadai dan bermakna jika tidak melakukan perkara yang benar.
48) Kecemerlangan adalah hasil daripada sikap yang ingin sentiasa melakukan yang terbaik.
49) Manusia tidak perlu dihukum kerana lupa, tetapi manusia perlu dihukum kerana sengaja lupa.
50) Barangsiapa mempertimbangkan keselamatan dalam tindakannya, maka tenanglah batinnya.
17 April 2009
Motivasi Belajar Anak
Beginilah cerita seorang ayah pada waktu makan malam, waktu favorit berkumpul keluarga, di mana suami, isteri dan semua anaknya hadir.
Paman papi pertama bernama Bill Gates. Ia telah bisa membuat program komputer dalam usia tiga belas tahun. Program komputer telah membuatnya terobsesi, sehingga ia merelakan kuliahnya di universitas bergengsi di Amerika.
Lain hari, ayah bercerita lagi, paman papi kedua bernama Steve Jobs, anak yang nakal pada waktu muda dan gemar elektronika. Ia meninggalkan kuliahnya dan berhasil dalam tiga industri yang berbeda yaitu musik, komputer dan film animasi.
Hari berikutnya ayah itu bercerita lagi, paman papi ketiga dan keempat bernama Sergey Brin dan Larry Page. Mereka merelakan program doktornya karena obsesinya untuk mengkomersialkan hasil riset mesin pencarinya.
Ayah itu menjelaskan bahwa tidak selamanya cerita-cerita itu disampaikan tanpa gangguan atau komentar negatif. Anak-anaknya sering nyeletuk, "Kok, paman semuanya kaya tetapi papi tidak banyak uangnya," atau "Pamannya pintar-pintar, kok papi tidak." atau "Bosan ah, cerita paman melulu."
Untuk mengurangi kebosanan, di hari yang lain sang ayah tidak bercerita lagi tentang paman-pamannya. Saudara nenek kamu bernama Ibu Teresa. Ketika diragukan niat baiknya untuk menolong ratusan ribu orang yang harus ditolong, ibu Teresa bertanya, mulai dari angka berapa kamu menghitung sampai sejuta? Ibu itu berkata, mulai dari angka satu.
Lain hari ayah itu bercerita lagi, saudara nenek yang lain bernama Grace Murray Hopper. Ia adalah wanita penemu bahasa pemrograman COBOL. Ia adalah nenek pertama yang mendapatkan pangkat Real Admiral dan wanita pertama yang masih bekerja pada usia delapan puluh tahun di angkatan laut Amerika.
Lain hari ayahnya bercerita lagi. Pada suatu hari seorang anak berlari dengan kencang sambil menangis. Ia duduk di bawah pohon yang rindang sambil meratapi nasibnya dan menangis karena selalu saja prestasi sekolahnya jauh di bawah nilai kakaknya. Tanpa sadar ia melihat pemandangan yang indah di mana tetesan air jatuh ke sebuah batu yang sangat besar. Karena penasaran ia mendatangi lebih dekat dan terkejut ketika melihat batu itu berlobang karena tetesan-tetesan air yang kecil itu. Setelah dewasa anak itu menjadi orang yang terkenal jauh melebihi kakaknya karena hasil karyanya.
Begitulah cerita sang ayah kepada anak-anaknya pada setiap acara favorit keluarga, makan malam. Dan sering juga anak-anaknya mengomel, “Ah bosan, pada suatu hari melulu.”
Hasilnya? Masih saja semangat belajar anak-anaknya jauh dari memuaskan yang tentu saja berakibat pada nilai raport mereka. Namun ayah itu tidak bosan-bosannya dan tidak kenal lelah bercerita selama berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun, walaupun hasil yang diinginkan masih belum kunjung tiba. Stok ceritanya tidak hanya yang di atas, tetapi sering juga cerita-cerita itu diulang-ulang.
Kadang-kadang, kata sang ayah kepada penulis, sering juga ia bernyanyi sebagai ganti bercerita. Nyanyian itu adalah nyanyian yang biasa dilakukan ketika anak sekolah setingkat SD mulai belajar English Grammar. (Pernah dimuat di surat kabar Kompas pada saat menceritakan seorang bintang NBA).
"Good … Better ... Best
Don’t let us rest
Until your good becomes your better
And your better becomes your best."
Ayah itu bernyanyi terus sampai suatu hari salah satu anaknya mulai mengomentari setelah kalimat “Don’t let us rest.”, " … Ih, capek dech."
Ayah itu bernyanyi dan bercerita, bernyanyi dan bercerita tanpa kenal bosan dan lelah selama berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun.
Sampai suatu hari, keajaiban datang kepada anaknya yang sulung, kata sang ayah kepada penulis. Kepala sekolah dibuat kaget dengan lonjakan drastis nilai-nilainya hanya dalam hitungan bulan. Lonjakan nilai anak itu adalah yang paling tinggi di sekolahnya. Penulis memberanikan bertanya, apakah ia ranking pertama? Ah, bukan itu yang penting, jawab sang ayah. Yang penting adalah usahanya untuk mendorong dirinya ke arah potensi terbesarnya, sang ayah menjelaskan lebih lanjut.
Mendengar cerita sang ayah, penulis menjadi sadar dan heran dengan masih banyak orang tua yang tidak atau kurang sabar dalam membimbing anak-anaknya belajar, sehingga banyak yang menggunakan kekerasan atau pemaksaan kehendak dalam memotivasi anak-anak yang masih duduk di tingkat SD.
Itu mengingatkan penulis tentang cerita antara angin dan matahari. Angin dengan kekuatannya mencoba untuk memaksa seseorang agar membuka jaketnya. Semakin angin itu berusaha dengan keras memaksanya, semakin keras orang itu memegang jaketnya agar tidak terbawa angin.
Sedangkan matahari dengan bijak menggunakan kekuatannya membujuk orang itu untuk membuka jaketnya atas keinginan sendiri. Walaupun orang itu sudah berteduh di bawah pohon yang rindang, tetapi panas teriknya matahari membuat orang itu tidak hanya membuka jaketnya tetapi juga bajunya. Matahari memberikan motivasi kepada orang itu, “Agar tidak kepanasan bukalah jaket dan bajumu”.
Penulis menjadi teringat juga tentang cerita angsa dan telur emas dalam buku "The 7 Habits of Highly Effective People" karya Steven R. Covey. Covey menyinggung cerita tentang petani miskin yang menemukan angsa yang menghasilkan telur emas. Karena ketidaksabaran dan keserakahannya, petani itu membunuh angsanya sehingga tidak lagi mendapatkan telur emasnya. Covey kemudian menghubungkan cerita itu dengan P/KP (Produksi dan Kemampuan Produksi).
Penulis menjadi teringat juga tentang teori Montessori dari buku "Kisah Sukses Google" oleh David A Vise dan Mark Malseed, penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Inilah sedikit kutipan tentang teori itu.
“Kami berdua sewaktu kecil sama-sama bersekolah di sekolah yang disebut sekolah Montessori. Sistem pendidikan berdasarkan teori Montessori membiarkan anak-anak mengerjakan apapun yang mereka suka ketika mereka berusia enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas tahun. Namun setelah itu, karena hormon-hormon yang berlimpah pada anak laki-laki selewat usia itu, guru-guru sengaja memberi tugas-tugas ekstra keras kepada mereka. Sebab jika tidak demikian pikiran mereka akan teralihkan.”
Sang Ayah masih terus bercerita dan bernyanyi berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun tanpa kenal lelah dan tanpa berharap terlalu banyak kepada hasil.
Komentar sang ayah tentang hasil mengingatkan penulis pada sebuah buku “From Good to Great” karya Jim Collin di mana ia berkomentar bahwa kegagalan justru terjadi pada kategori orang yang terlalu obsesif dengan hasil yang tidak mempunyai kesabaran dalam usahanya.
Komentar sang ayah tentang hasil mengingatkan juga tentang seorang penulis lain yang suaranya pernah sering terdengar di sebuah radio yaitu, Gede Prama dalam bukunya “Kebahagiaan yang Membebaskan”, penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
“Ada yang menyebut ini dengan emptiness. Sebuah terminologi timur yang amat susah untuk dijelaskan dengan kata-kata manusia. Namun Daini Katagiri dalam Returning to Silence menyebutkan: ‘The final goal is that we should not be obsessed with the result, whether good, bad or neutral.’ Keseluruhan upaya untuk tidak terikat dengan hasil. Itulah keheningan. Sehingga yang tersisa persis seperti hukum alam: kerja, dan kerja. Dalam kerja seperti ini, manusia seperti matahari. Ditunggu tidak ditunggu, besok pagi ia terbit. Ada awan tidak ada awan matahari tetap bersinar. Disukai atau dibenci, sore hari di mana pun ia akan terbenam”
Seorang raja bijak pernah berkata, aku adalah raja di raja dengan kekayaan yang tidak akan pernah disamai oleh siapapun di dunia. Tetapi kekayaan ternyata sia-sia. Aku adalah raja dengan kekuasaan besar. Tetapi kekuasaan ternyata sia-sia. Tetapi aku berkata kepadamu, berbahagialah orang yang makan minum dari hasil kerjanya. Berbahagialah orang yang mencintai pekerjaannya. Kerja dan kerja dan kerja seperti matahari yang pasti terbit dan terbenam.
Sang Ayah masih terus bercerita dan bernyanyi berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun tanpa kenal lelah dan tanpa berharap terlalu banyak kepada hasil.
Penulis menjadi penasaran dengan anak-anak yang lain dari sang ayah, kemudian bertanya, Bagaimana hasilnya dengan anak yang lain? Hasil lagi, hasil lagi, celetuk sang ayah. Mungkin karena tidak tega, sang ayah kemudian meneruskan, setiap anak mempunyai potensi yang berbeda dan hasilnya juga jangan diharapkan sama antara anak yang satu dengan yang lain. Tetapi herannya peningkatan motivasi belajar kedua anak tersebut dimulai di umur yang sama yaitu sebelas tahun.
Sekarang kata sang ayah kepada penulis, justru sang ayah yang takut akan motivasi anaknya karena anaknya sering bangun sebelum pukul empat pagi hari karena selalu cemas hasil belajarnya kurang cukup. Terpaksa ayahnya bernyanyi lagi:
"Good … Better ... Best
Don’t let us rest
Until your good becomes your better
And your better becomes your best."
Usaha terbaikmu anakku, usaha terbaikmu. Setelah melakukan itu jangan cemas akan hasilnya, demikian kata sang ayah kepada anaknya.
Pada waktu makan malam, acara favorit keluarga, sang ayah masih terus bercerita dan bernyanyi berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun tanpa kenal lelah dan tanpa berharap terlalu banyak kepada hasil seperti matahari yang pasti akan terbit dan terbenam.
Paman papi pertama bernama Bill Gates. Ia telah bisa membuat program komputer dalam usia tiga belas tahun. Program komputer telah membuatnya terobsesi, sehingga ia merelakan kuliahnya di universitas bergengsi di Amerika.
Lain hari, ayah bercerita lagi, paman papi kedua bernama Steve Jobs, anak yang nakal pada waktu muda dan gemar elektronika. Ia meninggalkan kuliahnya dan berhasil dalam tiga industri yang berbeda yaitu musik, komputer dan film animasi.
Hari berikutnya ayah itu bercerita lagi, paman papi ketiga dan keempat bernama Sergey Brin dan Larry Page. Mereka merelakan program doktornya karena obsesinya untuk mengkomersialkan hasil riset mesin pencarinya.
Ayah itu menjelaskan bahwa tidak selamanya cerita-cerita itu disampaikan tanpa gangguan atau komentar negatif. Anak-anaknya sering nyeletuk, "Kok, paman semuanya kaya tetapi papi tidak banyak uangnya," atau "Pamannya pintar-pintar, kok papi tidak." atau "Bosan ah, cerita paman melulu."
Untuk mengurangi kebosanan, di hari yang lain sang ayah tidak bercerita lagi tentang paman-pamannya. Saudara nenek kamu bernama Ibu Teresa. Ketika diragukan niat baiknya untuk menolong ratusan ribu orang yang harus ditolong, ibu Teresa bertanya, mulai dari angka berapa kamu menghitung sampai sejuta? Ibu itu berkata, mulai dari angka satu.
Lain hari ayah itu bercerita lagi, saudara nenek yang lain bernama Grace Murray Hopper. Ia adalah wanita penemu bahasa pemrograman COBOL. Ia adalah nenek pertama yang mendapatkan pangkat Real Admiral dan wanita pertama yang masih bekerja pada usia delapan puluh tahun di angkatan laut Amerika.
Lain hari ayahnya bercerita lagi. Pada suatu hari seorang anak berlari dengan kencang sambil menangis. Ia duduk di bawah pohon yang rindang sambil meratapi nasibnya dan menangis karena selalu saja prestasi sekolahnya jauh di bawah nilai kakaknya. Tanpa sadar ia melihat pemandangan yang indah di mana tetesan air jatuh ke sebuah batu yang sangat besar. Karena penasaran ia mendatangi lebih dekat dan terkejut ketika melihat batu itu berlobang karena tetesan-tetesan air yang kecil itu. Setelah dewasa anak itu menjadi orang yang terkenal jauh melebihi kakaknya karena hasil karyanya.
Begitulah cerita sang ayah kepada anak-anaknya pada setiap acara favorit keluarga, makan malam. Dan sering juga anak-anaknya mengomel, “Ah bosan, pada suatu hari melulu.”
Hasilnya? Masih saja semangat belajar anak-anaknya jauh dari memuaskan yang tentu saja berakibat pada nilai raport mereka. Namun ayah itu tidak bosan-bosannya dan tidak kenal lelah bercerita selama berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun, walaupun hasil yang diinginkan masih belum kunjung tiba. Stok ceritanya tidak hanya yang di atas, tetapi sering juga cerita-cerita itu diulang-ulang.
Kadang-kadang, kata sang ayah kepada penulis, sering juga ia bernyanyi sebagai ganti bercerita. Nyanyian itu adalah nyanyian yang biasa dilakukan ketika anak sekolah setingkat SD mulai belajar English Grammar. (Pernah dimuat di surat kabar Kompas pada saat menceritakan seorang bintang NBA).
"Good … Better ... Best
Don’t let us rest
Until your good becomes your better
And your better becomes your best."
Ayah itu bernyanyi terus sampai suatu hari salah satu anaknya mulai mengomentari setelah kalimat “Don’t let us rest.”, " … Ih, capek dech."
Ayah itu bernyanyi dan bercerita, bernyanyi dan bercerita tanpa kenal bosan dan lelah selama berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun.
Sampai suatu hari, keajaiban datang kepada anaknya yang sulung, kata sang ayah kepada penulis. Kepala sekolah dibuat kaget dengan lonjakan drastis nilai-nilainya hanya dalam hitungan bulan. Lonjakan nilai anak itu adalah yang paling tinggi di sekolahnya. Penulis memberanikan bertanya, apakah ia ranking pertama? Ah, bukan itu yang penting, jawab sang ayah. Yang penting adalah usahanya untuk mendorong dirinya ke arah potensi terbesarnya, sang ayah menjelaskan lebih lanjut.
Mendengar cerita sang ayah, penulis menjadi sadar dan heran dengan masih banyak orang tua yang tidak atau kurang sabar dalam membimbing anak-anaknya belajar, sehingga banyak yang menggunakan kekerasan atau pemaksaan kehendak dalam memotivasi anak-anak yang masih duduk di tingkat SD.
Itu mengingatkan penulis tentang cerita antara angin dan matahari. Angin dengan kekuatannya mencoba untuk memaksa seseorang agar membuka jaketnya. Semakin angin itu berusaha dengan keras memaksanya, semakin keras orang itu memegang jaketnya agar tidak terbawa angin.
Sedangkan matahari dengan bijak menggunakan kekuatannya membujuk orang itu untuk membuka jaketnya atas keinginan sendiri. Walaupun orang itu sudah berteduh di bawah pohon yang rindang, tetapi panas teriknya matahari membuat orang itu tidak hanya membuka jaketnya tetapi juga bajunya. Matahari memberikan motivasi kepada orang itu, “Agar tidak kepanasan bukalah jaket dan bajumu”.
Penulis menjadi teringat juga tentang cerita angsa dan telur emas dalam buku "The 7 Habits of Highly Effective People" karya Steven R. Covey. Covey menyinggung cerita tentang petani miskin yang menemukan angsa yang menghasilkan telur emas. Karena ketidaksabaran dan keserakahannya, petani itu membunuh angsanya sehingga tidak lagi mendapatkan telur emasnya. Covey kemudian menghubungkan cerita itu dengan P/KP (Produksi dan Kemampuan Produksi).
Penulis menjadi teringat juga tentang teori Montessori dari buku "Kisah Sukses Google" oleh David A Vise dan Mark Malseed, penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Inilah sedikit kutipan tentang teori itu.
“Kami berdua sewaktu kecil sama-sama bersekolah di sekolah yang disebut sekolah Montessori. Sistem pendidikan berdasarkan teori Montessori membiarkan anak-anak mengerjakan apapun yang mereka suka ketika mereka berusia enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas tahun. Namun setelah itu, karena hormon-hormon yang berlimpah pada anak laki-laki selewat usia itu, guru-guru sengaja memberi tugas-tugas ekstra keras kepada mereka. Sebab jika tidak demikian pikiran mereka akan teralihkan.”
Sang Ayah masih terus bercerita dan bernyanyi berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun tanpa kenal lelah dan tanpa berharap terlalu banyak kepada hasil.
Komentar sang ayah tentang hasil mengingatkan penulis pada sebuah buku “From Good to Great” karya Jim Collin di mana ia berkomentar bahwa kegagalan justru terjadi pada kategori orang yang terlalu obsesif dengan hasil yang tidak mempunyai kesabaran dalam usahanya.
Komentar sang ayah tentang hasil mengingatkan juga tentang seorang penulis lain yang suaranya pernah sering terdengar di sebuah radio yaitu, Gede Prama dalam bukunya “Kebahagiaan yang Membebaskan”, penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
“Ada yang menyebut ini dengan emptiness. Sebuah terminologi timur yang amat susah untuk dijelaskan dengan kata-kata manusia. Namun Daini Katagiri dalam Returning to Silence menyebutkan: ‘The final goal is that we should not be obsessed with the result, whether good, bad or neutral.’ Keseluruhan upaya untuk tidak terikat dengan hasil. Itulah keheningan. Sehingga yang tersisa persis seperti hukum alam: kerja, dan kerja. Dalam kerja seperti ini, manusia seperti matahari. Ditunggu tidak ditunggu, besok pagi ia terbit. Ada awan tidak ada awan matahari tetap bersinar. Disukai atau dibenci, sore hari di mana pun ia akan terbenam”
Seorang raja bijak pernah berkata, aku adalah raja di raja dengan kekayaan yang tidak akan pernah disamai oleh siapapun di dunia. Tetapi kekayaan ternyata sia-sia. Aku adalah raja dengan kekuasaan besar. Tetapi kekuasaan ternyata sia-sia. Tetapi aku berkata kepadamu, berbahagialah orang yang makan minum dari hasil kerjanya. Berbahagialah orang yang mencintai pekerjaannya. Kerja dan kerja dan kerja seperti matahari yang pasti terbit dan terbenam.
Sang Ayah masih terus bercerita dan bernyanyi berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun tanpa kenal lelah dan tanpa berharap terlalu banyak kepada hasil.
Penulis menjadi penasaran dengan anak-anak yang lain dari sang ayah, kemudian bertanya, Bagaimana hasilnya dengan anak yang lain? Hasil lagi, hasil lagi, celetuk sang ayah. Mungkin karena tidak tega, sang ayah kemudian meneruskan, setiap anak mempunyai potensi yang berbeda dan hasilnya juga jangan diharapkan sama antara anak yang satu dengan yang lain. Tetapi herannya peningkatan motivasi belajar kedua anak tersebut dimulai di umur yang sama yaitu sebelas tahun.
Sekarang kata sang ayah kepada penulis, justru sang ayah yang takut akan motivasi anaknya karena anaknya sering bangun sebelum pukul empat pagi hari karena selalu cemas hasil belajarnya kurang cukup. Terpaksa ayahnya bernyanyi lagi:
"Good … Better ... Best
Don’t let us rest
Until your good becomes your better
And your better becomes your best."
Usaha terbaikmu anakku, usaha terbaikmu. Setelah melakukan itu jangan cemas akan hasilnya, demikian kata sang ayah kepada anaknya.
Pada waktu makan malam, acara favorit keluarga, sang ayah masih terus bercerita dan bernyanyi berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun tanpa kenal lelah dan tanpa berharap terlalu banyak kepada hasil seperti matahari yang pasti akan terbit dan terbenam.
Menghadapi Ujian Nasional (UAN)
Jika penulis ditanya apa yang harus dilakukan jika karena sesuatu hal siswa atau siswi di manapun mereka berada terpaksa diharuskan untuk menghafal mata pelajaran dengan sistim SKS (sistem kebut semalam)? Tanpa ragu penulis akan berkata, gunakan teknik “encapsulation”.
Penulis akan menyajikan sebuah kisah nyata. Tulisan ini diambil dari tulisan berbahasa Inggris berjudul Why Object Oriented Programming Makes Sense? yang juga dimuat dalam situs ini.
Seorang anak lelaki duduk di sebuah sofa kira-kira satu jam lamanya, mencoba untuk menghafal tugas sekolah yang terdiri dari satu kalimat yang panjang, sembilan puluh lima kata dan lima ratus dua puluh tiga huruf. Anak laki-laki itu yang duduk di kelas tiga SD tidak bisa menahan lagi. Itu tampak sekali dari kegelisahannya bahwa dia tidak dapat mengatasinya. Untuk mengeluarkan segala kegundahannya, dia menangis begitu keras sehingga akhirnya terpaksa ayahnya turun tangan menolongnya.
Ayahnya membawanya ke ruangan lain dan mencoba menenangkan anak itu. Setelah anak itu berhenti menangis, ayahnya menggambar delapan simbol dan menghubungkan masing-masing simbol dengan kata-kata yang ada dalam kalimat itu. Seperti sebuah pertunjukan sulap, anak itu begitu mudahnya menghafal kalimat panjang itu hanya dalam waktu kurang lebih sepuluh menit. Ayahnya kemudian berkata, “Lihat, kamu adalah anak yang pintar.” Anak itu berkata dengan rendah hati, “ Ah bukan, itu karena Ayah.”
Penulis tidak mempunyai keterangan ilmiah bagaimana otak kita bekerja tetapi saya tahu bahwa otak kita membutuhkan sesuatu untuk menghubungkan satu hal dengan hal-hal yang lain, satu kata dalam bahasa Inggris yang bisa menerangkan itu adalah “encapsulation”. Saya akan memberikan definisi “Encapsulate” dari Oxford Advanced Learner’s Dictionary, "To express the most important parts of something in a few words, a small space or a single object." Untuk mengekspresikan bagian penting dari sesuatu dengan kata yang pendek, ruangan yang kecil atau objek tunggal.
Jika menyimak cerita di atas dengan teliti, penulis sengaja menulis jumlah huruf dari kalimat itu. Misalkan pembaca diharuskan menghafal semua huruf dengan menggabungkan semua kata menjadi hanya satu kata, apakah ada orang yang bisa menghafal kata itu. Itu hal yang sulit dilakukan. Tetapi dengan memisahkan 523 huruf menjadi 95 kata yang mempunyai arti, tugas itu jauh lebih mudah. Dengan menghubungkan 95 kata-kata itu ke hanya 8 simbol, tugas itu akan jauh lebih mudah. Kata “ encapsulation” adalah kata yang penulis dapatkan dari bidang ilmu pemograman berbasis objek. Tetapi kata “encapsulation” tidak hanya berguna di bidang pemrograman berbasis objek tetapi bisa diterapkan untuk menghafal dan belajar di sekolah.
Sebagai percobaan, dapatkah anda menghafal huruf yang terdapat dalam kata ini: iamgoingtobedearlybecauseimustgetupearlyinthemorning? Sekarang coba memecahkan kata ini menjadi beberapa kata: I am going to bed early because I must get up early in the morning.
Sewaktu masih SMA, ada seorang murid yang terkenal nakal dan membuat sebuah singkatan untuk menghafal unsur kimia dengan membuat sebuah kalimat seperti ini : “Beni manggil ca?? suruh Ba?? Rasain.“ ca?? tebak sendiri apa kata itu. Ba?? Adalah nama kepala sekolah SMA kami waktu itu. Hanya kolom di daftar unsur kimia itu yang penulis masih ingat.
Semoga tulisan singkat ini dapat memberikan sedikit informasi agar bisa menerapkan teknik “encapsulation” untuk kepentingan belajar menghadapi ujian akhir nasional. Tetapi mudah-mudahan tulisan ini tidak membuat siswa siswi selalu terbiasa dengan SKS (sistem kebut semalam). Untuk kepentingan jangka panjang teknik yang terbukti ampuh dalam belajar adalah: You do it bit by bit dan Speed Reading.
Akhir kata penulis ingin mengucapkan kepada siswa siswi, orang tua yang anaknya akan menghadapi ujian akhir nasional atau guru-guru pembimbing, “sukses menempuh ujian akhir nasional”.
Untuk membantu belajar, gunakan alat bantu BOCSoft eQuestion yang dapat diambil di halaman utama download yang didalamnya juga dapat diambil contoh-contoh soal UAN (Ujian Akhir Nasional) SD, SMP dan SMA berupa database komunitas.
Penulis akan menyajikan sebuah kisah nyata. Tulisan ini diambil dari tulisan berbahasa Inggris berjudul Why Object Oriented Programming Makes Sense? yang juga dimuat dalam situs ini.
Seorang anak lelaki duduk di sebuah sofa kira-kira satu jam lamanya, mencoba untuk menghafal tugas sekolah yang terdiri dari satu kalimat yang panjang, sembilan puluh lima kata dan lima ratus dua puluh tiga huruf. Anak laki-laki itu yang duduk di kelas tiga SD tidak bisa menahan lagi. Itu tampak sekali dari kegelisahannya bahwa dia tidak dapat mengatasinya. Untuk mengeluarkan segala kegundahannya, dia menangis begitu keras sehingga akhirnya terpaksa ayahnya turun tangan menolongnya.
Ayahnya membawanya ke ruangan lain dan mencoba menenangkan anak itu. Setelah anak itu berhenti menangis, ayahnya menggambar delapan simbol dan menghubungkan masing-masing simbol dengan kata-kata yang ada dalam kalimat itu. Seperti sebuah pertunjukan sulap, anak itu begitu mudahnya menghafal kalimat panjang itu hanya dalam waktu kurang lebih sepuluh menit. Ayahnya kemudian berkata, “Lihat, kamu adalah anak yang pintar.” Anak itu berkata dengan rendah hati, “ Ah bukan, itu karena Ayah.”
Penulis tidak mempunyai keterangan ilmiah bagaimana otak kita bekerja tetapi saya tahu bahwa otak kita membutuhkan sesuatu untuk menghubungkan satu hal dengan hal-hal yang lain, satu kata dalam bahasa Inggris yang bisa menerangkan itu adalah “encapsulation”. Saya akan memberikan definisi “Encapsulate” dari Oxford Advanced Learner’s Dictionary, "To express the most important parts of something in a few words, a small space or a single object." Untuk mengekspresikan bagian penting dari sesuatu dengan kata yang pendek, ruangan yang kecil atau objek tunggal.
Jika menyimak cerita di atas dengan teliti, penulis sengaja menulis jumlah huruf dari kalimat itu. Misalkan pembaca diharuskan menghafal semua huruf dengan menggabungkan semua kata menjadi hanya satu kata, apakah ada orang yang bisa menghafal kata itu. Itu hal yang sulit dilakukan. Tetapi dengan memisahkan 523 huruf menjadi 95 kata yang mempunyai arti, tugas itu jauh lebih mudah. Dengan menghubungkan 95 kata-kata itu ke hanya 8 simbol, tugas itu akan jauh lebih mudah. Kata “ encapsulation” adalah kata yang penulis dapatkan dari bidang ilmu pemograman berbasis objek. Tetapi kata “encapsulation” tidak hanya berguna di bidang pemrograman berbasis objek tetapi bisa diterapkan untuk menghafal dan belajar di sekolah.
Sebagai percobaan, dapatkah anda menghafal huruf yang terdapat dalam kata ini: iamgoingtobedearlybecauseimustgetupearlyinthemorning? Sekarang coba memecahkan kata ini menjadi beberapa kata: I am going to bed early because I must get up early in the morning.
Sewaktu masih SMA, ada seorang murid yang terkenal nakal dan membuat sebuah singkatan untuk menghafal unsur kimia dengan membuat sebuah kalimat seperti ini : “Beni manggil ca?? suruh Ba?? Rasain.“ ca?? tebak sendiri apa kata itu. Ba?? Adalah nama kepala sekolah SMA kami waktu itu. Hanya kolom di daftar unsur kimia itu yang penulis masih ingat.
Semoga tulisan singkat ini dapat memberikan sedikit informasi agar bisa menerapkan teknik “encapsulation” untuk kepentingan belajar menghadapi ujian akhir nasional. Tetapi mudah-mudahan tulisan ini tidak membuat siswa siswi selalu terbiasa dengan SKS (sistem kebut semalam). Untuk kepentingan jangka panjang teknik yang terbukti ampuh dalam belajar adalah: You do it bit by bit dan Speed Reading.
Akhir kata penulis ingin mengucapkan kepada siswa siswi, orang tua yang anaknya akan menghadapi ujian akhir nasional atau guru-guru pembimbing, “sukses menempuh ujian akhir nasional”.
Untuk membantu belajar, gunakan alat bantu BOCSoft eQuestion yang dapat diambil di halaman utama download yang didalamnya juga dapat diambil contoh-contoh soal UAN (Ujian Akhir Nasional) SD, SMP dan SMA berupa database komunitas.
Rumus Cepat Matematika untuk Anak dan Remaja: Cara Menemukan dan Memanfaatkan Rumus Cepat
Rekan saya, yang doktor lulusan ITB, menyarankan agar saya membaca buku Polya tentang metode matematika. Tentu saya senang. Rekan saya itu gemar menemukan rumus-rumus cepat matematika untuk UN, SPMB, UMPTN, dan lain-lain.
Buku Polya memberikan ilustrasi yang menarik tentang metode matematika. Sukses Polya tidak lepas dari pengalamannya mengajarkan matematika puluhan tahun termasuk di Stanford University. Saya tertarik dengan empat langkah yang disarankan Polya dalam memecahkan problem matematika. Empat langkah ini dapat kita gunakan untuk anak-anak mulai usia TK sampai remaja yang hendak menempuh UN, SPMB, UMPTN 2008. Semoga banyak membantu.
Langkah pertama. Pemahaman masalah. Kita harus benar-benar memahami masalah yang kita hadapi. Apa yang ingin kita dapatkan? Apa saja yang tidak kita ketahui? Apa saja data yang tersedia? Kondisi-kondisi apa yang dipersyaratkan?
Contoh soal:
1. Hitunglah 12 x 13 = …
Sepertinya, masalah ini sudah jelas. Memang masalah ini sudah jelas bagi anak SMA yang akan SPMB dan UMPTN. Tetapi jika kita akan mengajarkan kepada anak usia TK atau awal SD, banyak hal yang harus kita pertimbangkan. Apakah anak kita sudah paham bahwa 12 adalah dua belas bukan 1 + 2? Apakah anak kita sudah paham maksud operasi perkalian? Apakah anak kita sudah berminat mempelajari masalah itu?
Di APIQ, pertanyaan-pertanyaan ini menjadi keharusan sebelum melakukan pembelajaran. Kita perlu memahami materi matematika juga pelajar matematika kita. Saya yakin suksesnya kursus matematika Kumon dan Sempoa berkat pemahaman hal ini. (Mungkin Jarimatika dan Sakamoto juga).
Langkah kedua. Susun rencana. Temukan hubungan antara masalah dengan data atau sebaliknya. Apakah Anda dapat menemukan hubungan yang jelas antara keduanya? Perhatikan data, perhatikan pertanyaan. Apakah Anda pernah menemukan masalah yang mirip sebelumnya?
Bagi anak SMA, 12 x 13 = ….sudah sering ia lihat. Kita langsung dapat mengerjakan soal itu. Kalikan seperti biasa kita mengalikan. Adakah cara lain? Mengapa tidak mencoba menemukan alternatif?
Bagi anak-anak kecil, apakah ia sudah mengenal perkalian bilangan 2 digit dengan 2 digit? Apakah ia sudah mengenal perkalian bilangan 2 digit dengan 1 digit? Dapatkah kita mengajarkannya secara bertahap?
Langkah ketiga. Laksanakan rencana. Periksa tahap demi tahap. Apakah setiap tahapnya benar? Dapatkah Anda membuktikan kebenaran itu? Adakah tahap-tahap ini dapat dilihat dengan mudah?
Bagi anak SMA, 12 x 13 =… biasa dihitung dengan menulis bersusun ke bawah:
12
13x
36
120+
156
Apakah Anda yakin setiap langkah di atas adalah benar? Mengapa?
Bagi anak TK atau awal SD, bergantung kemampuan siswa. Jika anak sudah mengenal perkalian 2 digit kali 2 digit dapat dikerjakan dengan cara di atas. Tetapi bila anak baru mengenal perkalian 2 digit kali satu digit, kita dapat berangkat dari sini.
12 x 13 =…
12 x (10 + 3) =…
(12 x 10) + (12 x 3) =…
Awas hati-hati! Jangan Anda suruh anak Anda melakukan perhitungan di atas! Perhitungan di atas hanya untuk kita, orang dewasa. Anak-anak cukup Anda minta untuk menghitung
12 x 10 = …
Yakinkan bahwa perkalian dengan 10 adalah mudah. Hanya menambahkan 0 di belakangnya. Jadi 12 ditambahkan angka 0 di belakangnya.12 x 10 = 120.
Cobalah, anak Anda akan menyukainya.
Kemudian minta anak Anda menghitung
12 x 3 = 36
Mestinya anak Anda sudah dapat mengalikan 12 dengan 3. Jika belum, Anda dapat melatihnya sekarang. Di APIQ, kami memainkan Onde Milenium untuk mengajarkan konsep perkalian semacam ini. Anak-anak sangat menyukai Onde Milenium.
Setelah itu minta anak menjumlahkan 120 + 36 = ….
Kita peroleh 120 + 36 = 156.
Ini adalah jawaban akhir yang diinginkan. Lakukan latihan dengan beberapa angka yang berbeda. Tetap jaga suasana ceria dalam belajar. Setelah anak lancar dengan cara di atas, perkenalkan cara perkalian bersusun ke bawah seperti anak SMA. Anak-anak Anda akan menyukainya.
Yang menarik dari metode Polya adalah masih ada langkah keempat. Meski pun kita sudah memperoleh solusi pada langkah ketiga. Menurut saya, yang terpeting adalah langkah keempat. Langkah keempat inilah yang menghasilkan banyak rumus-rumus cepat matematika untuk UN, SPMB, dan UMPTN. Langkah keempat juga sangat penting bagi pembelajaran anak-anak kecil.
Langkah keempat. Perhatikan kembali seluruhnya. Bagaimana Anda dapat memperoleh jawaban tersebut? Apakah Anda dapat menguji jawaban tersebut? Dapatkah Anda menguji argumen? Dapatkah Anda memperoleh hasil dengan cara yang berbeda? Dapatkah Anda melihat hanya sekilas? Dapatkah Anda menggunakan cara atau hasil ini untuk masalah lain?
Baik, untuk contoh 12 x 13 = … dapatkah kita mendapatkan solusi degan cara berbeda?
Tambahkan 12 + 3 = 15 kemudian kalikan 2 x 3 = 6
Kita peroleh 156. (Selesai)
Contoh lain: 12 x 14 = …. Tambahkan 12 + 4 = 16 kemudian kalikan 2 x 4 = 8
Kita peroleh 168. (Selesai)
Contoh lain: 11 x 15 = … Tambahkan 11 + 5 = 16 kemudian kalikan 1 x 5 = 5
Kita peroleh 165. (Selesai).
Untuk anak-anak yang akan UN, SPMB, UMPTN 2008 ada sekedar contoh rumus cepat berikut. Gunakan pertanyaan: apakah Anda dapat menguji jawaban tersebut? Soal-soal UN, SPMB, dan UMPTN 2008 berupa pilihan ganda. Jadi kita bisa menguji jawaban-jawaban yang tersedia.
Contoh soal:
Persamaan garis yang sejajar dengan 3x – 4y + 5 = 0 dan melalui titik (2,1) adalah…
A. 3x + 4y – 10 = 0
B. 3x – 4y – 2 = 0
C. 4x + 3y – 11 = 0
D. 4x – 3y – 10 = 0
E. x + y – 2 = 0
Dengan menguji jawaban saja, bahwa garis yang sejajar memiliki gradien yang sama, maka kita peroleh jawabannya adalah B. Selain pilihan B adalah salah. (Selesai).
Agar lebih yakin, Anda dapat menguji dengan titik (2,1):3(2) – 4(1) – 2 = 0 adalah benar.
Manfaatkan langkah keempat dari Polya. Niscaya Anda akan menemukan banyak rumus cepat matematika. Baik untuk keperluan UN, SPMB, UMPTN 2008 atau pun untuk putra-putri Anda yang masih kecil. Di APIQ, kami banyak memanfaatkan itu.
Bagaimana pendapat Anda?
Buku Polya memberikan ilustrasi yang menarik tentang metode matematika. Sukses Polya tidak lepas dari pengalamannya mengajarkan matematika puluhan tahun termasuk di Stanford University. Saya tertarik dengan empat langkah yang disarankan Polya dalam memecahkan problem matematika. Empat langkah ini dapat kita gunakan untuk anak-anak mulai usia TK sampai remaja yang hendak menempuh UN, SPMB, UMPTN 2008. Semoga banyak membantu.
Langkah pertama. Pemahaman masalah. Kita harus benar-benar memahami masalah yang kita hadapi. Apa yang ingin kita dapatkan? Apa saja yang tidak kita ketahui? Apa saja data yang tersedia? Kondisi-kondisi apa yang dipersyaratkan?
Contoh soal:
1. Hitunglah 12 x 13 = …
Sepertinya, masalah ini sudah jelas. Memang masalah ini sudah jelas bagi anak SMA yang akan SPMB dan UMPTN. Tetapi jika kita akan mengajarkan kepada anak usia TK atau awal SD, banyak hal yang harus kita pertimbangkan. Apakah anak kita sudah paham bahwa 12 adalah dua belas bukan 1 + 2? Apakah anak kita sudah paham maksud operasi perkalian? Apakah anak kita sudah berminat mempelajari masalah itu?
Di APIQ, pertanyaan-pertanyaan ini menjadi keharusan sebelum melakukan pembelajaran. Kita perlu memahami materi matematika juga pelajar matematika kita. Saya yakin suksesnya kursus matematika Kumon dan Sempoa berkat pemahaman hal ini. (Mungkin Jarimatika dan Sakamoto juga).
Langkah kedua. Susun rencana. Temukan hubungan antara masalah dengan data atau sebaliknya. Apakah Anda dapat menemukan hubungan yang jelas antara keduanya? Perhatikan data, perhatikan pertanyaan. Apakah Anda pernah menemukan masalah yang mirip sebelumnya?
Bagi anak SMA, 12 x 13 = ….sudah sering ia lihat. Kita langsung dapat mengerjakan soal itu. Kalikan seperti biasa kita mengalikan. Adakah cara lain? Mengapa tidak mencoba menemukan alternatif?
Bagi anak-anak kecil, apakah ia sudah mengenal perkalian bilangan 2 digit dengan 2 digit? Apakah ia sudah mengenal perkalian bilangan 2 digit dengan 1 digit? Dapatkah kita mengajarkannya secara bertahap?
Langkah ketiga. Laksanakan rencana. Periksa tahap demi tahap. Apakah setiap tahapnya benar? Dapatkah Anda membuktikan kebenaran itu? Adakah tahap-tahap ini dapat dilihat dengan mudah?
Bagi anak SMA, 12 x 13 =… biasa dihitung dengan menulis bersusun ke bawah:
12
13x
36
120+
156
Apakah Anda yakin setiap langkah di atas adalah benar? Mengapa?
Bagi anak TK atau awal SD, bergantung kemampuan siswa. Jika anak sudah mengenal perkalian 2 digit kali 2 digit dapat dikerjakan dengan cara di atas. Tetapi bila anak baru mengenal perkalian 2 digit kali satu digit, kita dapat berangkat dari sini.
12 x 13 =…
12 x (10 + 3) =…
(12 x 10) + (12 x 3) =…
Awas hati-hati! Jangan Anda suruh anak Anda melakukan perhitungan di atas! Perhitungan di atas hanya untuk kita, orang dewasa. Anak-anak cukup Anda minta untuk menghitung
12 x 10 = …
Yakinkan bahwa perkalian dengan 10 adalah mudah. Hanya menambahkan 0 di belakangnya. Jadi 12 ditambahkan angka 0 di belakangnya.12 x 10 = 120.
Cobalah, anak Anda akan menyukainya.
Kemudian minta anak Anda menghitung
12 x 3 = 36
Mestinya anak Anda sudah dapat mengalikan 12 dengan 3. Jika belum, Anda dapat melatihnya sekarang. Di APIQ, kami memainkan Onde Milenium untuk mengajarkan konsep perkalian semacam ini. Anak-anak sangat menyukai Onde Milenium.
Setelah itu minta anak menjumlahkan 120 + 36 = ….
Kita peroleh 120 + 36 = 156.
Ini adalah jawaban akhir yang diinginkan. Lakukan latihan dengan beberapa angka yang berbeda. Tetap jaga suasana ceria dalam belajar. Setelah anak lancar dengan cara di atas, perkenalkan cara perkalian bersusun ke bawah seperti anak SMA. Anak-anak Anda akan menyukainya.
Yang menarik dari metode Polya adalah masih ada langkah keempat. Meski pun kita sudah memperoleh solusi pada langkah ketiga. Menurut saya, yang terpeting adalah langkah keempat. Langkah keempat inilah yang menghasilkan banyak rumus-rumus cepat matematika untuk UN, SPMB, dan UMPTN. Langkah keempat juga sangat penting bagi pembelajaran anak-anak kecil.
Langkah keempat. Perhatikan kembali seluruhnya. Bagaimana Anda dapat memperoleh jawaban tersebut? Apakah Anda dapat menguji jawaban tersebut? Dapatkah Anda menguji argumen? Dapatkah Anda memperoleh hasil dengan cara yang berbeda? Dapatkah Anda melihat hanya sekilas? Dapatkah Anda menggunakan cara atau hasil ini untuk masalah lain?
Baik, untuk contoh 12 x 13 = … dapatkah kita mendapatkan solusi degan cara berbeda?
Tambahkan 12 + 3 = 15 kemudian kalikan 2 x 3 = 6
Kita peroleh 156. (Selesai)
Contoh lain: 12 x 14 = …. Tambahkan 12 + 4 = 16 kemudian kalikan 2 x 4 = 8
Kita peroleh 168. (Selesai)
Contoh lain: 11 x 15 = … Tambahkan 11 + 5 = 16 kemudian kalikan 1 x 5 = 5
Kita peroleh 165. (Selesai).
Untuk anak-anak yang akan UN, SPMB, UMPTN 2008 ada sekedar contoh rumus cepat berikut. Gunakan pertanyaan: apakah Anda dapat menguji jawaban tersebut? Soal-soal UN, SPMB, dan UMPTN 2008 berupa pilihan ganda. Jadi kita bisa menguji jawaban-jawaban yang tersedia.
Contoh soal:
Persamaan garis yang sejajar dengan 3x – 4y + 5 = 0 dan melalui titik (2,1) adalah…
A. 3x + 4y – 10 = 0
B. 3x – 4y – 2 = 0
C. 4x + 3y – 11 = 0
D. 4x – 3y – 10 = 0
E. x + y – 2 = 0
Dengan menguji jawaban saja, bahwa garis yang sejajar memiliki gradien yang sama, maka kita peroleh jawabannya adalah B. Selain pilihan B adalah salah. (Selesai).
Agar lebih yakin, Anda dapat menguji dengan titik (2,1):3(2) – 4(1) – 2 = 0 adalah benar.
Manfaatkan langkah keempat dari Polya. Niscaya Anda akan menemukan banyak rumus cepat matematika. Baik untuk keperluan UN, SPMB, UMPTN 2008 atau pun untuk putra-putri Anda yang masih kecil. Di APIQ, kami banyak memanfaatkan itu.
Bagaimana pendapat Anda?
Tips Dan Trik Cara Belajar Yang Baik Untuk Ujian / Ulangan Pelajaran Sekolah Bagi Siswa SD, SMP, SMA Serta Mahasiswa
Belajar merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para pelajar dan mahasiswa. Belajar pada umumnya dilakukan di sekolah ketika jam pelajaran berlangsung dibimbing oleh Bapak atau Ibu Guru. Belajar yang baik juga dilakukan di rumah baik dengan maupun tanpa pr / pekerjaan rumah. Belajar yang dilakukan secara terburu-buru akibat dikejar-kejar waktu memiliki dampak yang tidak baik.
Berikut ini adalah tips dan triks yang dapat menjadi masukan berharga dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan atau ujian :
1. Belajar Kelompok
Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Namun sebaiknya tetap didampingi oleh orang dewasa seperti kakak, paman, bibi atau orang tua agar belajar tidak berubah menjadi bermain. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar yang tidak pandai jadi ketularan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.
2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran
Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun kita berada. Namun catatan tersebut jangan dijadikan media mencontek karena dapat merugikan kita sendiri.
3. Membuat Perencanaan Yang Baik
Untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh karena itu ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana pencapaian nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang kita lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target pencapaian dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan menargetkan yang yang nomor satu jika saat ini kita masih di luar 10 besar di kelas. Buat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata pelajaran yang lemah. Buatlah jadwal belajar yang baik.
4. Disiplin Dalam Belajar
Apabila kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan baik. Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil main-main dengan konsentrasi penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah, dan sebagainya telah tiba maka jangan ditunda-tunda lagi. Lanjutkan belajar setelah melakukan kegiatan tersebut jika waktu belajar belum usai. Bermain dengan teman atau game dapat merusak konsentrasi belajar. Sebaiknya kegiatan bermain juga dijadwalkan dengan waktu yang cukup panjang namun tidak melelahkan jika dilakukan sebelum waktu belajar. Jika bermain video game sebaiknya pilih game yang mendidik dan tidak menimbulkan rasa penasaran yang tinggi ataupun rasa kekesalan yang tinggi jika kalah.
5. Menjadi Aktif Bertanya dan Ditanya
Jika ada hal yang belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau orang tua. Jika kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika bertanya, bertanyalah secukupnya dan jangan bersifat menguji orang yang kita tanya. Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada kita hal-hal yang belum dia pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat semakin ingat dengan jawaban dan apabila kita juga tidak tahu jawaban yang benar, maka kita dapat membahasnya bersama-sama dengan teman. Selain itu
6. Belajar Dengan Serius dan Tekun
Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan. Catat yang penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan nanti akan keluar saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca kembali catatan yang telah dibuat tadi dan hapalkan sambil dimengerti. Jika kita sudah merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri dengan soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban dengan kunci jawaban. Pelajari kembali soal-soal yang salah dijawab.
7. Hindari Belajar Berlebihan
Jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika belum siap. Jalan pintas yang sering dilakukan oleh pelajar yang belum siap adalah dengan belajar hingga larut malam / begadang atau membuat contekan. Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak.
8. Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan Dan Ujian
Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian. Mencontek dapat membuat sifat kita curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun juga tidak dapat ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung untuk melakukan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan selanjutnya. Anggaplah dengan nyontek pasti akan ketahuan guru dan memiliki masa depan sebagai penjahat apabila kita melakukan kecurangan.
Semoga tips cara belajar yang benar ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua, amin.
Berikut ini adalah tips dan triks yang dapat menjadi masukan berharga dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan atau ujian :
1. Belajar Kelompok
Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Namun sebaiknya tetap didampingi oleh orang dewasa seperti kakak, paman, bibi atau orang tua agar belajar tidak berubah menjadi bermain. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar yang tidak pandai jadi ketularan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.
2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran
Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun kita berada. Namun catatan tersebut jangan dijadikan media mencontek karena dapat merugikan kita sendiri.
3. Membuat Perencanaan Yang Baik
Untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh karena itu ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana pencapaian nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang kita lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target pencapaian dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan menargetkan yang yang nomor satu jika saat ini kita masih di luar 10 besar di kelas. Buat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata pelajaran yang lemah. Buatlah jadwal belajar yang baik.
4. Disiplin Dalam Belajar
Apabila kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan baik. Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil main-main dengan konsentrasi penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah, dan sebagainya telah tiba maka jangan ditunda-tunda lagi. Lanjutkan belajar setelah melakukan kegiatan tersebut jika waktu belajar belum usai. Bermain dengan teman atau game dapat merusak konsentrasi belajar. Sebaiknya kegiatan bermain juga dijadwalkan dengan waktu yang cukup panjang namun tidak melelahkan jika dilakukan sebelum waktu belajar. Jika bermain video game sebaiknya pilih game yang mendidik dan tidak menimbulkan rasa penasaran yang tinggi ataupun rasa kekesalan yang tinggi jika kalah.
5. Menjadi Aktif Bertanya dan Ditanya
Jika ada hal yang belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau orang tua. Jika kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika bertanya, bertanyalah secukupnya dan jangan bersifat menguji orang yang kita tanya. Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada kita hal-hal yang belum dia pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat semakin ingat dengan jawaban dan apabila kita juga tidak tahu jawaban yang benar, maka kita dapat membahasnya bersama-sama dengan teman. Selain itu
6. Belajar Dengan Serius dan Tekun
Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan. Catat yang penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan nanti akan keluar saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca kembali catatan yang telah dibuat tadi dan hapalkan sambil dimengerti. Jika kita sudah merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri dengan soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban dengan kunci jawaban. Pelajari kembali soal-soal yang salah dijawab.
7. Hindari Belajar Berlebihan
Jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika belum siap. Jalan pintas yang sering dilakukan oleh pelajar yang belum siap adalah dengan belajar hingga larut malam / begadang atau membuat contekan. Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak.
8. Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan Dan Ujian
Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian. Mencontek dapat membuat sifat kita curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun juga tidak dapat ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung untuk melakukan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan selanjutnya. Anggaplah dengan nyontek pasti akan ketahuan guru dan memiliki masa depan sebagai penjahat apabila kita melakukan kecurangan.
Semoga tips cara belajar yang benar ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua, amin.
Langganan:
Postingan (Atom)